Site Loader

Strategi Pengembangan Kota Hijau (Green City) dan Inovasi Ekowisata Berkelanjutan:
Tantangan dan Potensi Infrastruktur di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Azahra Novaadita 20232800271, Freti Permata Sari 20232800392
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Indo Global Mandiri, Palembang
Fakultas Teknik

Abstrak
Kota Pagar Alam memiliki posisi strategis dalam konstelasi wilayah Provinsi Sumatera Selatan
sebagai kota pegunungan yang mengusung visi Green City dan energi terbarukan. Penelitian ini
bertujuan untuk merumuskan strategi implementasi inovasi daerah yang relevan dengan
karakteristik geografis dan potensi lokal Kota Pagar Alam. Fokus utama kajian ini terletak pada
tiga pilar utama: transisi energi terbarukan melalui pemanfaatan mikro hidro, mitigasi tantangan
geografis di wilayah lereng pegunungan, serta optimalisasi potensi ekowisata berbasis
perkebunan teh dan peninggalan megalitikum. Metode penelitian yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur (comprehensive literature review).
Identifikasi masalah menunjukkan bahwa hambatan utama inovasi di Kota Pagar Alam meliputi
keterbatasan aksesibilitas fisik akibat topografi yang ekstrem, risiko bencana longsor yang tinggi,
serta kesenjangan digital (digital divide) di kawasan perdesaan dan perkebunan. Hasil kajian
menunjukkan bahwa inovasi daerah di Pagar Alam harus diarahkan pada konsep Smart
Environment yang mengintegrasikan teknologi pemantauan lingkungan dengan kearifan lokal.
Rekomendasi yang dihasilkan mencakup pengembangan sistem peringatan dini bencana berbasis
Internet of Things (IoT), penguatan sektor agropolitan melalui digitalisasi rantai pasok kopi, dan
implementasi Circular Economy pada limbah perkebunan. Kesimpulannya, sinergitas antara
kebijakan top-down pemerintah kota dengan partisipasi aktif masyarakat melalui Community
Based Tourism (CBT) menjadi kunci keberhasilan implementasi inovasi yang berkelanjutan di
Kota Pagar Alam.
Kata Kunci : Inovasi Ekowisata Kota Pagar Alam, Green City, Sumatra Selatan.

1. PENDAHULUAN
Kota Pagar Alam secara geografis
merupakan salah satu permata di jantung
Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki
karakteristik spasial unik dibandingkan
dengan wilayah kabupaten/kota lainnya.
Terletak pada koordinat 4 Lintang Selatan
dan 103 Bujur Timur, kota ini berdiri kokoh
di kaki Gunung Dempo, bagian dari
rangkaian pegunungan Bukit Barisan.
Dengan ketinggian mencapai 3.159 meter di
atas permukaan laut (mdpl), Pagar Alam
diberkahi dengan bentang alam yang
didominasi oleh perbukitan bergelombang,
lembah yang dalam, serta hamparan hutan
hujan tropis yang masih terjaga.
Dalam perspektif perencanaan
wilayah, Pagar Alam bukan sekadar kota
administratif, melainkan sebuah ekosistem
pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan
penyangga (buffer zone) bagi wilayahwilayah di bawahnya. Letak geografis ini
membentuk mikroklimat yang sejuk, yang
menjadi modal dasar bagi pengembangan
sektor perkebunan dan pariwisata. Namun, di
balik keindahan visualnya, posisi topografi
yang ekstrem ini menyimpan tantangan
struktural yang kompleks, terutama terkait
dengan stabilitas tanah dan keterbatasan
ruang untuk pengembangan infrastruktur
masif.
Pemerintah Kota Pagar Alam telah
menetapkan visi jangka panjang yang sangat
ambisius namun realistis, yaitu
mentransformasikan wilayah ini menjadi
“Kota Kopi” dan “Kota Wisata” yang
berkelanjutan. Sebagai penghasil kopi
Robusta utama di Sumatera Selatan, kopi
bukan sekadar komoditas ekonomi bagi
warga Pagar Alam, melainkan sebuah
identitas sosial yang telah mendapatkan
pengakuan melalui Sertifikasi Indikasi
Geografis (IG). Hal ini menuntut adanya
inovasi dalam tata kelola rantai pasok, mulai
dari teknik budidaya di lereng gunung hingga
proses hilirisasi industri.
Di sisi lain, potensi pariwisata Pagar Alam
sangatlah masif, mencakup wisata alam
(Gunung Dempo dan puluhan air terjun),
wisata sejarah (situs megalitikum terbanyak
di Indonesia), hingga wisata agro. Visi ini
mengarahkan pembangunan kota menuju
konsep Green City (Kota Hijau). Namun,
implementasi visi tersebut memerlukan
pendekatan inovasi daerah yang tidak
konvensional, mengingat pengembangan
sektor wisata di wilayah pegunungan harus
berjalan beriringan dengan upaya konservasi
alam agar tidak terjadi degradasi lingkungan
yang merugikan di masa depan.

1. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Inovasi Daerah dan Tata
Kelola Pemerintahan
Inovasi daerah dalam perspektif
otonomi daerah didefinisikan sebagai semua
bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan
Pemerintah Daerah yang berpedoman pada
prinsip peningkatan efisiensi, perbaikan
efektivitas, dan kualitas pelayanan publik.
Menurut UU No. 23 Tahun 2014, inovasi
daerah bertujuan untuk mempercepat
terwujudnya kesejahteraan masyarakat
melalui peningkatan pelayanan publik,
pemberdayaan, dan peran serta masyarakat.
Dalam konteks Kota Pagar Alam, inovasi
tidak hanya terbatas pada penggunaan
teknologi informasi (e-government), tetapi
juga mencakup inovasi kebijakan dalam
pengelolaan sumber daya alam yang
berkelanjutan di wilayah dataran tinggi.

2.2 Teori Perencanaan Kota Hijau (Green
City)
Konsep Green City atau Kota Hijau
merupakan pendekatan perencanaan kota
yang berbasis pada keselarasan antara
pembangunan ekonomi dan pelestarian
lingkungan. Terdapat delapan atribut utama
dalam pengembangan Kota Hijau, yaitu
Green Planning, Green Open Space, Green
Energy, Green Waste, Green Water, Green
Building, Green Transportation, dan Green
Community.
Bagi Kota Pagar Alam, atribut Green
Energy dan Green Transportation menjadi
sangat relevan. Mengingat topografi
pegunungan, penggunaan energi terbarukan
seperti mikro-hidro menjadi implementasi
nyata dari teori Green Energy. Selain itu,
perencanaan ruang yang mempertahankan
tutupan hutan di kaki Gunung Dempo
merupakan bentuk nyata dari Green Planning
untuk menjaga fungsi hidrologis wilayah.
2.3 Pengembangan Ekowisata Berbasis
Masyarakat (Community-Based Tourism)
Ekowisata adalah bentuk pariwisata
yang bertanggung jawab terhadap kelestarian
area yang masih alami, memberikan manfaat
ekonomi, dan mempertahankan keutuhan
budaya masyarakat lokal. Teori CommunityBased Tourism (CBT) menekankan bahwa
masyarakat lokal harus memiliki peran utama
dalam pengambilan keputusan dan
pengelolaan pariwisata. Di Pagar Alam,
keterlibatan masyarakat dalam mengelola
homestay dan pemandu wisata di situs
megalitikum serta perkebunan teh
merupakan kunci keberhasilan inovasi sektor
pariwisata. Inovasi daerah harus diarahkan
untuk memperkuat kelembagaan lokal agar
masyarakat tidak hanya menjadi penonton
dalam pertumbuhan industri wisata.
2.4 Teori Pengembangan Agropolitan
Konsep Agropolitan adalah strategi
pembangunan yang menjadikan sektor
pertanian sebagai motor penggerak ekonomi
dengan cara menyediakan fasilitas perkotaan
di wilayah perdesaan. Tujuannya adalah
untuk mengurangi kesenjangan antara desa
dan kota serta mencegah urbanisasi berlebih.
Pagar Alam sebagai “Kota Kopi” sangat
relevan dengan teori ini. Inovasi pada rantai
pasok kopi, mulai dari penyediaan teknologi
pasca-panen hingga akses pasar digital,
merupakan bagian dari pengembangan
kawasan agropolitan yang mandiri dan
berdaya saing global.

1. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif dengan fokus
pada analisis literatur dan kebijakan.
Pemilihan metode kualitatif didasarkan pada
kebutuhan untuk memahami secara
mendalam fenomena perencanaan di wilayah
pegunungan yang tidak hanya bersifat teknismatematis, tetapi juga melibatkan aspek
sosial, kebijakan, dan lingkungan. Melalui
metode deskriptif, peneliti berusaha
memotret kondisi eksisting Kota Pagar Alam,
mengidentifikasi hambatan dalam
implementasi inovasi, serta mensintesis
solusi yang adaptif terhadap karakteristik
lokal wilayah tersebut.
3.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan
melalui Studi Literatur Sistematis
(Systematic Literature Review). Data yang
digunakan dalam makalah ini merupakan
data sekunder yang dikumpulkan dari
berbagai sumber kredibel, yang meliputi:
1. Artikel Jurnal Ilmiah, Penelahan terhadap
minimal 15 artikel jurnal yang membahas
mengenai pembangunan berkelanjutan,
ekonomi kopi, energi terbarukan, dan
manajemen bencana di daerah pegunungan.
1. Dokumen Perencanaan Daerah, Merujuk
pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kota Pagar Alam Tahun 2024-2044 dan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD)
1. Data Statistik, Menggunakan data dari
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pagar Alam
dalam Angka untuk memvalidasi data
demografi, luas lahan, dan kontribusi sektor
ekonomi.
3.2 Analisis Data
Analisis data dilakukan secara bertahap
menggunakan teknik Analisis Isi (Content
Analysis) dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Reduksi Data,Mengidentifikasi dan
memilah informasi penting dari 15 referensi
jurnal dengan fokus Kota Pagar Alam.
Display Data, Menyajikan data dalam bentuk
narasi sistematis dan tabel perbandingan
untuk memudahkan pemahaman mengenai
kaitan antara teori perencanaan dengan
kondisi lapangan.
1. Analisis Sintesis, Menghubungkan potensi
daerah (seperti kopi dan energi mikro-hidro)
dengan teori-teori inovasi daerah untuk
menghasilkan sebuah rekomendasi
pendekatan.
1. Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan,
Merumuskan konsep “Smart Highland
Resilience” sebagai output akhir dari proses
analisis pemikiran.
3.3 Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian ditetapkan secara
spesifik di Kota Pagar Alam, Provinsi
Sumatera Selatan. Objek penelitian
mencakup seluruh sistem tata kelola wilayah,
dengan fokus khusus pada integrasi antara
kawasan lindung di kaki Gunung Dempo,
kawasan budidaya pertanian kopi, dan
kawasan pengembangan pariwisata.
Pemilihan lokasi ini dianggap representatif
untuk studi inovasi daerah karena Pagar
Alam memiliki karakteristik unik yang jarang
ditemui di kota-kota lain di Sumatera Selatan.
1. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Implementasi Konsep Green
City di Pagar Alam
Berdasarkan hasil analisis, Kota
Pagar Alam memiliki modalitas yang kuat
dalam menerapkan konsep Green City (Kota
Hijau). Berbeda dengan kota-kota di dataran
rendah yang berjuang menciptakan Ruang
Terbuka Hijau (RTH), Pagar Alam secara
alami telah memiliki luasan vegetasi yang
melebihi standar minimum 30%. Namun,
tantangan inovasi terletak pada Green Energy
dan Green Mobility.
Hasil studi menunjukkan bahwa
pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga
Mikro Hidro (PLTMH) di tingkat pedesaan
telah memberikan kemandirian energi bagi
kelompok tani. Namun, integrasi energi ini
ke dalam sistem kelistrikan kota secara
makro masih memerlukan inovasi dalam hal
jaringan distribusi. Inovasi daerah yang
berhasil diidentifikasi adalah optimalisasi
debit air dari berbagai curup (air terjun) yang
tidak hanya berfungsi sebagai daya tarik
wisata, tetapi juga sebagai penyokong energi
ramah lingkungan yang mendukung visi Zero
Emission.
4.2 Inovasi Ekowisata Berbasis Komunitas
dan Digitalisasi
Pembahasan mengenai sektor pariwisata
menunjukkan bahwa model Community
Universitas indo global mandiri
5
Based Tourism (CBT) adalah yang paling
relevan untuk Pagar Alam. Hasil penelitian
literatur mengungkapkan bahwa keberadaan
situs megalitikum dan perkebunan teh
Gunung Dempo memerlukan sistem
informasi terpadu. Implementasi inovasi
berupa platform “Pagar Alam Guide” atau
sistem serupa dapat memangkas kesenjangan
informasi bagi wisatawan. Namun,
pembahasan juga menyoroti bahwa inovasi
digital harus dibarengi dengan inovasi fisik
berupa pembangunan infrastruktur ramah
lingkungan. Misalnya, penggunaan material
perkerasan jalan yang permeabel (menyerap
air) di kawasan wisata untuk mencegah erosi
lereng. Inovasi pada sektor ini tidak boleh
hanya berfokus pada jumlah kunjungan,
tetapi pada carrying capacity (daya dukung)
agar kelestarian lingkungan tetap terjaga.
4.3. Sinkronisasi Sektor Agropolitan: Kopi
dan Teknologi
Sektor pertanian kopi di Pagar Alam
menghadapi tantangan pada rantai nilai
(value chain). Pembahasan dalam makalah
ini menemukan bahwa inovasi daerah yang
paling dibutuhkan adalah “Inovasi PascaPanen Terpadu”. Dengan status Indikasi
Geografis (IG), kopi Pagar Alam memiliki
nilai tawar tinggi. Hasil analisis
menyarankan pembentukan pusat inovasi
kopi (Coffee Innovation Hub) yang berfungsi
sebagai tempat edukasi petani mengenai
teknologi roasting dan pengemasan modern.
Hal ini akan mengubah orientasi petani dari
sekadar menjual bahan mentah menjadi
menjual produk olahan bernilai tambah
tinggi.

5. KONSEP DAN REKOMENDASI
STRATEGIS
5.1 Konsep Pengembangan: “Pagar Alam
Smart-Eco Mountain City”
Berdasarkan sintesis antara tantangan
geografis yang ekstrem dan potensi sumber
daya alam yang melimpah, makalah ini
merumuskan konsep utama bertajuk “Pagar
Alam Smart-Eco Mountain City”. Konsep ini
merupakan sebuah manifestasi perencanaan
kota masa depan yang mengintegrasikan
prinsip-prinsip Green City (Kota Hijau)
dengan teknologi digital cerdas untuk
mendukung keberlanjutan sektor ekowisata
di dataran tinggi.
Filosofi dari konsep ini adalah
menjadikan batasan geografis pegunungan
bukan sebagai penghambat, melainkan
sebagai nilai jual utama melalui perlindungan
ekosistem yang ketat. Konsep ini
menekankan bahwa setiap inovasi yang
diimplementasikan di Pagar Alam harus
memiliki dampak ganda: meningkatkan
efisiensi pelayanan publik melalui teknologi
cerdas (Smart), sekaligus menjamin
kelestarian daya dukung lingkungan (Eco).
5.2 Strategi Implementasi Berbasis
Atribut Kota Hijau
Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan
langkah-langkah konkret yang mengacu pada
atribut Kota Hijau (Green City) yang telah
disesuaikan dengan lokus Kota Pagar Alam:
5.2.1 Inovasi Energi dan Infrastruktur
Hijau (Green Energy & Infrastructure)
Pagar Alam direkomendasikan untuk
memperkuat kemandirian energi berbasis
komunitas melalui optimalisasi Pembangkit
Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang
terintegrasi dengan destinasi ekowisata.
Setiap homestay dan fasilitas penunjang di
kawasan Gunung Dempo didorong untuk
menggunakan energi ramah lingkungan ini.
Selain itu, pembangunan fisik harus
mengadopsi prinsip Green Building, yakni
menggunakan material lokal dan desain yang
memaksimalkan sirkulasi udara alami guna
mengurangi ketergantungan pada energi
Universitas indo global mandiri
6
listrik, sejalan dengan karakteristik udara
sejuk Pagar Alam.
5.2.2 Pengelolaan Limbah dan Air
Berkelanjutan (Green Waste & Water)
Dalam mendukung ekowisata, inovasi
pengelolaan limbah harus menjadi prioritas.
Rekomendasi yang diajukan adalah
penerapan sistem Circular Economy, di mana
limbah organik dari sektor perhotelan dan
perkebunan kopi diolah menjadi pupuk
organik yang disuplai kembali ke petani.
Untuk pengelolaan air, Pagar Alam harus
mempertahankan luasan hutan lindung
sebagai menara air alami (water tower)
melalui kebijakan zonasi yang ketat di
wilayah hulu untuk menjamin ketersediaan
air bersih bagi penduduk di wilayah hilir
Sumatera Selatan.
5.3 Transformasi Ekowisata Ber
kelanjutan Berbasis Digital
Sektor ekowisata harus ditransformasikan
menjadi sektor yang tidak hanya menjual
keindahan alam, tetapi juga menjual nilai
edukasi dan konservasi:
5.3.1 Sistem Manajemen Wisata Cerdas
(Smart Ecotourism Management)
Pemerintah perlu menerapkan sistem
reservasi digital yang terintegrasi dengan
analisis Daya Dukung Lingkungan (Carrying
Capacity). Melalui aplikasi ini, jumlah
kunjungan ke puncak Gunung Dempo atau
situs megalitikum dapat dikontrol secara
real-time untuk mencegah degradasi lahan
akibat kepadatan wisatawan yang berlebih
(over-tourism). Inovasi ini akan memastikan
bahwa pengalaman wisata tetap berkualitas
tinggi sekaligus menjaga kelestarian artefak
megalitikum dari kerusakan fisik.
5.3.2 Digitalisasi Narasi Budaya dan Alam
Inovasi daerah diarahkan pada pembuatan
infrastruktur informasi berbasis Augmented
Reality (AR) di titik-titik peninggalan
sejarah. Wisatawan dapat mempelajari
sejarah peradaban batu besar Pagar Alam
melalui perangkat ponsel mereka tanpa perlu
membangun papan informasi fisik yang
masif yang dapat merusak estetika lanskap
hijau.
5..4 Rekomendasi Pendekatan Sektoral:
Agropolitan Kopi Hijau
Sebagai “Kota Kopi”, Pagar Alam harus
mengimplementasikan inovasi pada rantai
nilai kopi Robusta dengan pendekatan ramah
lingkungan. Rekomendasinya adalah
pengembangan “Green Coffee Belt”, yaitu
kawasan perkebunan kopi yang menerapkan
sistem agroforestri (menanam kopi di bawah
naungan pohon hutan). Pendekatan ini tidak
hanya menghasilkan kopi berkualitas tinggi
dengan skor rasa yang unik, tetapi juga
berfungsi sebagai kawasan konservasi tanah
dan air. Inovasi digital berupa blockchain
traceability dapat digunakan untuk menjamin
kepada pasar internasional bahwa kopi Pagar
Alam ditanam tanpa merusak hutan (bebas
deforestasi), sehingga meningkatkan nilai
tawar ekonomi petani lokal.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, Kota Pagar Alam
memiliki potensi besar untuk menjadi model
pembangunan berkelanjutan di Indonesia jika
mampu menyelaraskan inovasi teknologi
dengan kearifan lokal pegunungan.
Tantangan berupa topografi yang berat dan
risiko bencana harus dijawab dengan
pendekatan perencanaan yang berorientasi
pada ketangguhan dan kelestarian
lingkungan. Sinergi antara pemerintah,
masyarakat, dan sektor swasta dalam
menjalankan konsep Kota Hijau dan
Ekowisata akan menjamin bahwa

pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari
sektor kopi dan pariwisata tidak
mengorbankan fungsi ekologis wilayah.
Melalui implementasi rekomendasi yang
telah dipaparkan, Kota Pagar Alam akan
mampu bertransformasi menjadi daerah yang
inovatif, mandiri, dan tetap berpijak pada
nilai-nilai keberlanjutan alam bagi generasi
yang akan datang.

Daftar Pustaka
Arifin, Z., & Wijaya, A. (2022). Strategi
Inovasi Sektor Pariwisata di Kota Pagar
Alam melalui Transformasi Digital dan
Pemberdayaan Masyarakat Lokal. Jurnal
Pariwisata Terapan, 6(1), 45-58.
Bapelitbangda Kota Pagar Alam. (2023).
Laporan Analisis Capaian Indikator Green
City dan Keberlanjutan Lingkungan Kota
Pagar Alam Tahun 2022. Pagar Alam:
Pemerintah Kota Pagar Alam.
Fahmi, I., & Setiawan, B. (2019). Analisis
Daya Dukung Lingkungan (Carrying
Capacity) Kawasan Wisata Gunung Dempo
dalam Perspektif Perencanaan Wilayah
berkelanjutan. Jurnal Perencanaan Wilayah
dan Kota, 14(2), 112-125.
Hidayat, R., & Saputra, E. (2021). Evaluasi
Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH) sebagai Pilar Mandiri Energi
di Kota Pagar Alam Sumatera Selatan. Jurnal
Teknik Energi dan Kelistrikan, 13(3), 201-
215.
Lestari, D., & Ramadhan, F. (2022).
Implementasi Konsep Agropolitan pada
Komoditas Kopi Robusta dalam
Meningkatkan Ekonomi Wilayah di Kota
Pagar Alam. Jurnal Agribisnis dan
Pengembangan Wilayah, 10(1), 34-49.
Mulyana, E. (2018). Pelestarian Situs
Megalitikum Pagar Alam melalui Pendekatan
Ekowisata Sejarah dan Partisipasi Komunitas
lokal. Jurnal Arkeologi dan Kebudayaan
Nasional, 5(2), 88-102.
Nugraha, A., & Utomo, P. (2020).
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis
(SIG) untuk Pemetaan Zonasi Daerah Rawan
Bencana Tanah Longsor di Jalur Lahat-Pagar
Alam. Jurnal Geodesi dan Geomatika, 8(4),
156-170.
Prasetyo, B. (2021). Menuju Pagar Alam
Zero Emission: Analisis Kebijakan Transisi
Energi Hijau pada Sektor Transportasi dan
Industri Kecil. Jurnal Lingkungan Hidup dan
Pembangunan, 19(1), 22-38.
Putri, S. (2019). Analisis Konektivitas
Infrastruktur Jalan terhadap Distribusi
Logistik Hasil Pertanian di Wilayah
Pegunungan Sumatera Selatan. Jurnal
Transportasi dan Infrastruktur Wilayah, 7(2),
120-134.
Ramadhan, F., & Heryanto, D. (2020).
Inovasi Pelayanan Publik di Daerah Otonom
Baru: Studi Kasus Implementasi EGovernment di Kota Pagar Alam. Jurnal
Administrasi Publik dan Tata Kelola, 12(3),
210-225.
Saputra, H., & Pratama, M. (2022). Dampak
Perubahan Iklim terhadap Produktivitas Kopi
Robusta dan Strategi Adaptasi Petani di
Dataran Tinggi Pagar Alam. Jurnal
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika,
9(2), 45-60.
Sari, N., & Wijaya, K. (2021).
Pengembangan Strategi Branding Kopi Pagar
Alam melalui Sertifikasi Indikasi Geografis
untuk Meningkatkan Daya Saing Global.
Jurnal Manajemen Pemasaran dan Ekonomi
Kreatif, 11(4), 312-328.
Universitas indo global mandiri
8
Utomo, P., & Sari, R. (2018). Analisis
Konflik Pemanfaatan Ruang antara Kawasan
Lindung Hutan Gunung Dempo dengan
Kawasan Budidaya Pertanian. Jurnal Tata
Kota dan Pemukiman, 15(1), 67-81.
Wahyudi, T. (2023). Transformasi Digital
UMKM Sektor Unggulan di Kota Pagar
Alam: Hambatan dan Peluang di Era Society
5.0. Jurnal Ekonomi Kreatif dan
Entrepreneurship, 4(2), 144-159.
Zulkarnain, A. (2021). Studi Morfologi Kota
Pagar Alam sebagai Kota Pegunungan dalam
Mewujudkan Green Morphology. Jurnal
Arsitektur, Lansekap, dan Perencanaan
Wilayah, 9(3), 180-195.

Author

Leave a Reply