Site Loader

ABSTRAK (dalam Bahasa Indonesia)

 

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan spesies tumbuhan invasif yang menimbulkan masalah serius pada ekosistem perairan Kota Palembang, mengganggu navigasi dan memicu sedimentasi. Di sisi lain, potensi pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan dapat menjadi solusi berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika spasial dan temporal luasan eceng gondok serta mengidentifikasi klaster dengan kepadatan tertinggi sebagai lokasi prioritas untuk pengembangan sentra kerajinan. Metode yang digunakan adalah analisis geospasial berbasis citra satelit Sentinel-2 tahun 2018-2024. Data citra diproses menggunakan klasifikasi hierarkis yang mengintegrasikan indeks spektral dan analisis hotspot untuk pemetaan kepadatan. Hasil penelitian menunjukkan fluktuasi signifikan pada luasan eceng gondok, dengan tren penurunan secara keseluruhan namun tetap konsisten dari tahun ke tahun. Analisis hotspot berhasil mengidentifikasi area-area dengan konsentrasi tertinggi di wilayah Kalidoni, Ilir Timur Dua, Plaju, Jakabaring, dan Gandus. Meskipun beberapa hotspot berlokasi di kawasan privat, temuan ini menggarisbawahi urgensi untuk mensintesis data geospasial dengan faktor sosial dan ekonomi. Dengan demikian, peta hotspot berfungsi sebagai panduan strategis untuk merancang model kemitraan yang dapat mendukung industri kerajinan lokal dan mengubah masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.

 

Kunci : Eceng gondok, Google Earth Engine, hotspot, Palembang, penginderaan jauh, sentra kerajinan

 

ABSTRACT

 

Water hyacinth (Eichhornia crassipes) is an invasive plant species that causes serious problems in the water ecosystem of Palembang City, disrupting navigation and triggering sedimentation. On the other hand, the potential utilization of water hyacinth as raw material for handicrafts can be a sustainable solution. This study aims to analyze the spatial and temporal dynamics of water hyacinth extent and identify clusters with the highest density as priority locations for craft center development. The method used was geospatial analysis based on Sentinel-2 satellite imagery for 2018-2024. Image data was processed using hierarchical classification integrating spectral indices and hotspot analysis for density mapping. The results showed significant fluctuations in water hyacinth extent, with an overall decreasing trend but remaining consistent from year to year. Hotspot analysis identified areas of highest concentration in Kalidoni, Ilir Timur Dua, Plaju, Jakabaring and Gandus. Although some hotspots are located in private areas, this finding underscores the urgency of synthesizing geospatial data with social and economic factors. As such, the hotspot map serves as a strategic guide for designing partnership models that can support local craft industries and transform environmental problems into sustainable economic opportunities.

 

Keyword: Water hyacinth, Google Earth Engine, hotspot, Palembang, remote sensing, craft center

 

Zhohirin, M.H (2025). Dinamika Geospasial Eceng Gondok Di Palembang: Analisis Lokalitas Dan Implikasi Pemanfaatan Berkelanjutan.

 

 

1.       PENDAHULUAN

Secara global, tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) dengan sifat invasifnya, sering dianggap sebagai hama yang mengganggu ekosistem perairan, seperti menyumbat aliran sungai dan mengurangi oksigen terlarut (Alemneh et al., 2025; Bisht et al., 2024). Dalam jumlah tidak terkendali, biomassa eceng gondok dapat menutupi hingga 80–100% permukaan air, mengganggu penetrasi cahaya matahari hingga 95% dan menurunkan kadar oksigen terlarut di bawah 2 mg/L, menciptakan zona anoksik yang mematikan bagi ikan dan invertebrata akuatik (Correa-Mejía & Garcés-Gómez, 2025). Akibatnya, keanekaragaman hayati akuatik menurun hingga 50–70%, sementara aktivitas ekonomi seperti transportasi air dan perikanan terganggu, dengan kerugian jutaan dolar (Abba & S, 2025).

Pengelolaan konvensional, seperti pembersihan fisik atau herbisida kimia, sering tidak efektif dan tidak berkelanjutan karena dampak lingkungan seperti kontaminasi air serta regenerasi cepat tanaman eceng gondok (Addis & Desta, 2024). Kondisi ini mendorong pergeseran paradigma dari pengendalian ke pemanfaatan berkelanjutan, selaras dengan prinsip ekonomi sirkular yang mengubah limbah menjadi sumber daya. Studi Rakotoarisoa et al. (2016) menunjukkan potensi eceng gondok sebagai bahan baku alternatif untuk kerajinan tangan (tas, sandal, tikar) memberikan banyak keuntungan. Produk yang dihasilkan lebih mudah dan cepat dirakit (33% lebih efisien), memiliki kualitas yang diakui baik oleh 91% responden, serta mampu dijual dengan harga yang lumayan tinggi.

Di Indonesia, pemanfaatan ini telah menjadi industri kreatif ramah lingkungan, dengan potensi ekspor dan mendukung pendapatan lokal (Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, 2025). Dalam konteks Palembang, isu lingkungan ini beririsan dengan tantangan sosial-ekonomi unik. Masyarakat riparian memiliki warisan budaya anyaman turun-temurun menggunakan pohon nipah (Nypa fruticans), tetapi degradasi hutan mangrove akibat konversi lahan, polusi, dan perubahan iklim menyebabkan kelangkaan bahan baku, meskipun nipah mendominasi 30% dari 2,78 juta hektar mangrove Indonesia, termasuk Sumatera Selatan (Eddy et al., 2024; Taufik Wijaya, 2024). Kelangkaan ini mengancam keberlanjutan praktik budaya dan ekonomi, dengan penurunan produksi anyaman hingga 40% di wilayah riparian Palembang dalam dekade terakhir (Apriliani, 2005).

Kota Palembang, yang dikenal sebagai “Kota Sungai”, memiliki ekosistem perairan yang vital bagi masyarakat. Sungai Musi sebagai arteri utama, menghadapi tantangan ekologis kompleks akibat proliferasi gulma air invasif eceng gondok (Eichhornia crassipes) (Wijayanti et al., 2025). Eceng gondok di Sungai Musi menawarkan serat fleksibel dan tahan air mirip nipah sebagai alternatif inovatif untuk menjaga ekonomi, melestarikan keterampilan budaya, dan mendukung inisiatif seperti pemanfaatan limbah serta sekaligus sedimentasi di sungai (Iasha et al., 2024; Maulina et al., 2023). Hal ini tidak hanya mendukung aspek ekonomi, tetapi juga melestarikan kearifan lokal di tengah tantangan lingkungan.

Keterbatasan bahan baku tradisional untuk kerajinan anyamana seperti tanaman nipah telah mengancam keberlanjutan ekonomi masyarakat perajin. Dilain sisi, pemanfaatan eceng gondok secara berkelanjutan memerlukan data yang kuat dan akurat tentang ketersediaan dan sebaran spasial eceng gondok, yang sering kurang karena ketergantungan survei lapangan mahal dan terbatas. Penelitian sebelumnya misalnya seperti studi Sari et al. (2024) bergantung pada metode sederhana seperti penggunaan satu indeks tunggal (misalnya Normalized Difference Vegetation Index/NDVI), rentan ketidakakuratan (kesalahan klasifikasi 30–50%) dalam membedakan eceng gondok dari vegetasi akuatik lain karena kesamaan respons spektral NIR-merah (Alemneh et al., 2025). Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan pendekatan klasifikasi hierarkis kuat menggunakan penginderaan jauh multispektral (Sentinel- 2/Landsat) via Platform Google Earth Engine (GEE), mengintegrasikan NDWI untuk ekstraksi air, NDVI untuk vegetasi akuatik, dan SWIR untuk diferensiasi eceng gondok, mencapai akurasi >85% (Gao, 1996; Zhao et al., 2025). Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan mengintegrasikan analisis spasial dan temporal yang mendalam dengan konteks sosial dan budaya lokal. Menyediakan data geospasial yang dapat mengukur ketersediaan bahan baku eceng gondok secara ilmiah dan terukur. Hal ini akan

 

menghasilkan basis data yang akurat tentang ketersediaan bahan baku eceng gondok sebagai jembatan antara masalah lingkungan dan solusi ekonomi yang berbasis pada inovasi, keberlanjutan, dan nilai-nilai budaya lokal.

2.      DATA DAN METODE

  • Lokasi Studi

Penelitian ini difokuskan pada Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, yang terletak pada koordinat geografis 2°59’S dan 104°45’E. Kota Palembang memiliki luas wilayah total sekitar 400,61 km², dengan sebagian signifikan (sekitar 17-52% dari luas daratan) berupa perairan tawar dan tanah tergenang, termasuk sungai, rawa, dan anak sungai yang mendominasi lanskap kota. Sungai Musi, sebagai arteri utama kota dengan panjang sekitar 750 km (bagian di Palembang mencakup zona riparian luas), menjadi fokus utama karena perannya dalam transportasi, irigasi, dan ekosistem akuatik. Iklim tropis kota Palembang, dengan suhu rata-rata 21-32°C dan curah hujan 22-428 mm per bulan, mendukung pola banjir musiman yang mempercepat invasi eceng gondok (Eichhornia crassipes), terutama selama kemarau ketika debit air surut dan tanaman ini melimpah, menyumbat aliran dan mobilitas transportasi sungai.

Secara sosial-ekonomi, area studi mencakup komunitas riparian di sepanjang Sungai Musi, seperti di Kelurahan 3-4 Ulu (Seberang Ulu I) dan Plaju, di mana masyarakat memiliki keterampilan anyaman turun-temurun dari daun nipah (Nypa fruticans). Kampung Anyaman Daun Nipah di 3-4 Ulu menjadi sentra produksi kerajinan, dengan hampir seluruh warga terlibat dalam pengolahan daun nipah menjadi anyaman, meskipun kelangkaan bahan baku semakin menjadi tantangan (Afrilla & Wargadalem, 2023). Area of Interest (AOI) didefinisikan sebagai zona perairan utama dan riparian di Palembang, dengan batas administratif berdasarkan data BPS Sumatera Selatan 2025, untuk memastikan analisis yang komprehensif terhadap dinamika eceng gondok dan potensi pemanfaatannya.

 

  • Data Citra Satelit

Penelitian ini menggunakan citra satelit multispektral yang diperoleh dari Google Earth Engine (GEE). Pemilihan GEE didasarkan pada keunggulannya dalam menyediakan akses ke katalog data satelit berskala besar dan kemampuan komputasi awan yang efisien untuk analisis spasial-temporal (Pekel et al., 2016). Data utama yang digunakan adalah citra dari satelit Sentinel-2. Satelit Sentinel-2, menyediakan data multispektral dengan resolusi spasial tinggi (hingga 10 meter) dan resolusi temporal yang sangat baik. Keunggulan ini penting untuk memetakan sebaran eceng gondok yang dinamis (Thamaga & Dube, 2018). Periode data yang digunakan adalah dari tahun 2018 hingga 2024, yang memungkinkan analisis spasio-temporal yang komprehensif untuk memahami dinamika pertumbuhan dan penyebaran eceng gondok dari waktu ke waktu. Untuk meminimalkan interferensi awan, citra yang dipilih adalah citra dengan tutupan awan minimal (<10%).

Pemilihan Sentinel-2 sebagai sumber data utama didasarkan pada beberapa keunggulan ilmiah, antara lain: kemutakhiran data dengan pengambilan berkala 5 harian, cakupan global yang luas, ketersediaan data gratis dan terbuka, serta kemampuan multispektral yang meliputi kanal yang dapat digunakan untuk perhitungan indeks vegetasi (NDVI), indeks air (NDWI), dan spektrum SWIR untuk diferensiasi vegetasi spesifik seperti eceng gondok membedakan eceng gondok dari vegetasi lain berdasarkan kandungan airnya (Gao, 1996; McFEETERS, 1996).

 

Table 1. Spesifikasi Band Sentinel-2 yang Digunakan dalam Penelitian (Jiang et al., 2020 & Analisis, 2025)

Nama Band Panjang Gelombang

(μm)

Deskripsi Resolusi Spasial (meter) Kegunaan dalam Penelitian
Band 2 0.4575-0.5225 Blue (Biru) 10 Identifikasi air dan pencitraan permukaan air
Band 3 0.5425-0.5775 Green (Hijau) 10 Perhitungan NDWI, deteksi vegetasi
Band 4 0.65-0.68 Red (Merah) 10 Perhitungan NDVI, deteksi tutupan vegetasi
Band 8 0.7845-0.8995 NIR (Inframerah Dekat) 10 Perhitungan NDVI, pemantauan vegetasi hijau
Band 11 1.565-1.655 SWIR 1 (Inframerah Gel. Pendek) 20 Identifikasi eceng gondok (sensitif air)

 

  • Metodologi Pengolahan Data Geospasial

Pengolahan data dilakukan sepenuhnya di Google Earth Engine (GEE) berkat kemampuan komputasi awan yang efisien untuk analisis data berskala besar(Gorelick et al., 2017). Metodologi ini menggunakan pendekatan klasifikasi hierarkis berbasis piksel dengan alur sebagai berikut:

  • Pra-pemrosesan Data: Citra Sentinel-2 dari area penelitian difilter untuk meminimalkan tutupan awan (<10%) dan digabungkan menjadi komposit bulanan.
  • Klasifikasi Perairan: Delineasi area perairan dilakukan menggunakan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI), yang secara efektif membedakan air dari objek daratan (McFEETERS, 1996). Rumus MNDWI adalah sebagai berikut: MNDWI=(Green−SWIR)/(Green+SWIR).
  • Klasifikasi Vegetasi: Pada area perairan yang telah teridentifikasi, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dihitung untuk mendeteksi keberadaan vegetasi (Rouse et al., 1974). Rumus NDVI adalah: NDVI=(NIR−Red)/(NIR+Red).
  • Identifikasi Spesifik Eceng Gondok: Langkah ini adalah inti dari metodologi. Menggunakan hasil dari langkah sebelumnya, analisis band Shortwave Infrared (SWIR) diterapkan. Eceng gondok, dengan kandungan airnya yang tinggi, memiliki pantulan rendah pada band ini, yang membedakannya secara spektral dari vegetasi daratan atau rumput air lainnya (Gao, 1996). Nilai ambang (thresholding) yang spesifik digunakan untuk mengisolasi piksel eceng gondok.
  • Analisis Spasio-Temporal: Peta sebaran eceng gondok dari berbagai periode waktu dianalisis untuk menghitung luasan total dan mengidentifikasi tren pertumbuhan.
  • Validasi Akurasi: Peta klasifikasi divalidasi dengan data ground truth. Akurasi model diukur menggunakan Matriks Kesalahan untuk menghitung Overall Accuracy dan Kappa Coefficient.

Data luasan eceng gondok yang diperoleh dari analisis geospasial akan menjadi input utama dalam tahap ini. Zona-zona dengan konsentrasi eceng gondok tertinggi dan stabil dari waktu ke waktu (berdasarkan analisis spasio-temporal) akan diidentifikasi sebagai Zona Potensial Sumber Bahan Baku. Proses identifikasi ini akan melibatkan kriteria sebagai berikut:

 

Hasil dari tahap ini adalah peta tematik yang menunjukkan tematik zonasi potensi yang menunjukkan area dengan konsentrasi eceng gondok tertinggi sehingga menunjukkan justifikasi berbasis data untuk melihat biomassa eceng gondok yang stabil dan melimpah dan menjadikannya lokasi potensial untuk panen berkelanjutan. Peta ini akan memvisualisasikan data kuantitatif dalam format yang mudah dipahami oleh pemangku kepentingan.

Gambar 1. Tampilan Lembar Kerja Pada Halaman Code Editor Google Earth Engine (Penulis, 2025)

 

3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Sebaran dan Dinamika Spasio-Temporal Eceng Gondok

Analisis geospasial menggunakan citra satelit Sentinel-2 berhasil mengidentifikasi dan memetakan sebaran spasial eceng gondok di perairan Kota Palembang dari tahun 2018 hingga 2024. Hasil klasifikasi menunjukkan bahwa eceng gondok memiliki kecenderungan untuk terkonsentrasi di area perairan dengan aliran lambat dan dangkal, seperti anak sungai, danau kecil, dan area pinggiran sungai utama.

Peta perbandingan tahunan mengungkapkan dinamika temporal yang signifikan dalam tutupan eceng gondok di area penelitian. Peta pada Tahun 2019 dan Tahun 2021 menunjukkan bahwa sebaran eceng gondok terjadi di seluruh area perairan yang terklasifikasi, dengan konsentrasi yang cukup merata di sepanjang anak sungai Musi.

Berikut adalah peta hasil identifikasi sebaran tanaman Eceng gondok pada tahun 2019,2021 dan 2024 (pada peta, pixel berwarna merah merupakan sebaran tanaman eceng gondok yang telah diindentifikasi).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Sebaran Eceng Gondok Tahun 2019 (Analisis, 2025)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Sebaran Eceng Gondok Tahun 2021 (Analisis, 2025)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Sebaran Eceng Gondok Tahun 2024 (Analisis, 2025)

Analisis kuantitatif lebih lanjut menunjukkan fluktuasi luasan yang signifikan dari tahun ke tahun. Grafik yang dihasilkan dari analisis menunjukkan puncak luasan eceng gondok pada tahun 2019, dengan luas tutupan yang mencapai 111,3hektar, diikuti oleh tren penurunan yang berlanjut hingga tahun 2024. Setelah puncak tersebut, terjadi penurunan drastis hingga luasan stabil di sekitar 30-40 hektar pada akhir 2021, sebelum kembali turun menjadi 26,1 hektar pada Oktober 2024. Pola ini menunjukkan bahwa luasan eceng gondok di perairan Palembang tidak statis, melainkan dinamis dengan kecenderungan penurunan yang signifikan dari waktu ke waktu.

Penurunan ini dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk perubahan musiman, intervensi pembersihan secara berkala, dan dinamika hidrologis di perairan tersebut. Meskipun terjadi penurunan secara keseluruhan, keberadaan eceng gondok tetap konsisten dari tahun ke tahun, menunjukkan bahwa spesies invasif ini tidak pernah hilang sepenuhnya dari perairan Palembang. Konsistensi ini memberikan dasar yang kuat untuk mengidentifikasi area sebagai sumber bahan baku yang stabil, terlepas dari fluktuasi tahunan.

 

Gambar 5. Grafik luasan eceng gondok di Palembang dari tahun 2019 hingga 2024.

  • Identifikasi Hotspot dan Implikasi untuk Keberlanjutan Lokal

Berdasarkan analisis spasial, area dengan konsentrasi eceng gondok tertinggi, atau hotspot, berhasil diidentifikasi. Peta kepadatan menunjukkan klaster utama yang secara konsisten memiliki tutupan eceng gondok yang padat dan luas. Klaster-klaster ini berpotensi besar untuk dijadikan lokasi sentra usaha atau sumber bahan baku berkelanjutan untuk industri anyaman lokal. Area dengan kepadatan tertinggi (berwarna merah hingga jingga) teridentifikasi di beberapa lokasi, terutama di bagian utara dan timur wilayah penelitian, serta di beberapa bagian anak sungai yang berdekatan dengan permukiman penduduk. Sebaliknya, area dengan kepadatan rendah (berwarna biru) dominan di badan sungai utama dengan aliran air yang lebih cepat. Kepadatan yang tinggi di lokasi-lokasi ini mengindikasikan bahwa area tersebut merupakan habitat yang sangat sesuai untuk pertumbuhan eceng gondok, menjadikannya sumber biomassa yang melimpah dan stabil.

Analisis hotspot pada citra klasifikasi eceng gondok tahun 2024 berhasil mengidentifikasi area- area dengan konsentrasi tertinggi. Peta kepadatan menunjukkan klaster-klaster utama yang secara konsisten memiliki tutupan eceng gondok padat di wilayah Kalidoni, Ilir Timur Dua, Plaju, Jakabaring, dan Gandus. Namun, temuan ini dilengkapi dengan analisis kualitatif yang mengidentifikasi adanya batasan dalam pemanfaatan lahan. Sebagian besar klaster dengan kepadatan tertinggi di Ilir Timur Dua (PT. PUSRI) dan Plaju (PT. Pertamina) terletak di kawasan privat, yang membatasi aksesibilitas bagi masyarakat untuk pengembangan UMKM. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku secara geospasial tidak selalu berkorelasi langsung dengan kelayakan pengembangan kerajinan berbasis masyarakat akibat kendala kepemilikan lahan.

Berdasarkan peta, klaster dengan kepadatan tertinggi teridentifikasi di wilayah Kalidoni, yang menunjukkan area dengan akumulasi eceng gondok paling signifikan. Klaster kepadatan tinggi lainnya juga ditemukan di Ilir Timur Dua, Plaju, Jakabaring dan Gandus. Sebaliknya, area dengan kepadatan rendah (<25) terlihat di wilayah Ilir Barat Satu, Ilir Barat Dua, Seberang Ulu Satu, dan Kertapati. Di lain sisi, Kelurahan Tiga Empat Ulu yakni di Kecamatan Seberang Ulu Satu yang menjadi salah satu lokasi pengamatan utama di studi ini, menunjukkan ketersediaan eceng gondok yang sedikit.

Gambar 6. Peta Hasil Hotspot Pada Citra Klasifikasi Eceng Gondok Tahun 2024 (Analisis, 2025)

 

 

 

  • Pembahasan

Analisis spasial yang terintegrasi dengan pemanfaatan data penginderaan jauh secara time-series memberikan wawasan komprehensif mengenai dinamika pertumbuhan eceng gondok di perairan Palembang. Fluktuasi luasan yang signifikan dari 2018 hingga 2024, dengan puncak tutupan pada 2019, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah kondisi statis, melainkan respons terhadap berbagai faktor ekologis dan antropogenik. Puncak pertumbuhan ini dapat dijelaskan oleh kondisi hidrologis yang optimal, seperti aliran air yang lambat, nutrisi berlimpah, dan suhu yang sesuai, yang secara teoretis mendukung proliferasi spesies invasif (Gao, 1996; McFEETERS, 1996; Rouse et al., 1974). Penurunan luasan setelah 2019 menunjukkan adanya intervensi, baik melalui program pembersihan atau perubahan kondisi lingkungan, yang berhasil menekan populasi. Meskipun demikian, keberadaan yang konsisten dari tahun ke tahun mengindikasikan bahwa eceng gondok tetap menjadi komponen ekosistem perairan Palembang.

Identifikasi klaster dengan kepadatan tertinggi, atau hotspot, merupakan langkah krusial dalam mentransformasi masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan bahan baku yang melimpah tidak tersebar merata, melainkan terkonsentrasi di area-area spesifik yang secara ekologis mendukung pertumbuhannya.

Namun, implementasi praktis dari temuan ini menghadapi kendala kelembagaan dan sosio- ekonomi yang kompleks. Meskipun kawasan seperti Ilir Timur Dua dan Plaju diidentifikasi sebagai hotspot utama, mayoritas lahan di sana merupakan kawasan privat yang dikelola oleh entitas industri (PT. PUSRI dan PT. Pertamina). Kondisi ini menciptakan disonansi antara ketersediaan bahan baku yang tinggi dan aksesibilitasnya yang rendah bagi UMKM lokal, yang pada dasarnya meniadakan potensi pengembangan sentra kerajinan di lokasi tersebut.

Kondisi sebaliknya terjadi di lokasi-lokasi yang secara geospasial memiliki kepadatan eceng gondok rendah. Misalnya, Kelurahan Tiga Empat Ulu di Kecamatan Seberang Ulu Satu, meskipun menunjukkan ketersediaan eceng gondok yang terbatas, dapat menjadi lokasi yang layak dari perspektif sosial, dengan adanya minat komunitas yang kuat.

Oleh karena itu, strategi pengelolaan yang efektif tidak bisa hanya bergantung pada data geospasial, melainkan harus melakukan sintesis data geospasial dengan analisis sosio-ekonomi. Analisis spasial harus digunakan untuk mengidentifikasi zona potensial untuk kemitraan seperti area hotspot yang tidak dapat diakses secara langsung oleh publik, tujuananya supaya membangun kolaborasi panen dan distribusi bahan baku. Bahan baku dari area ini dapat disalurkan ke klaster masyarakat yang memiliki aksesibilitas dan minat tinggi, seperti di Tiga Empat Ulu. Pendekatan multi-kriteria ini memungkinkan pemanfaatan eceng gondok secara holistik, mengoptimalkan ketersediaan bahan baku sambil mengatasi kendala aksesibilitas, sehingga mendorong keberlanjutan ekonomi dan ekologis secara terpadu.

4.      KESIMPULAN

Penelitian ini berhasil menunjukkan efektivitas penggunaan citra satelit Sentinel-2 dan metodologi klasifikasi hierarkis untuk memetakan dinamika spasial dan temporal eceng gondok di perairan Kota Palembang dari tahun 2018 hingga 2024. Hasil analisis kuantitatif mengonfirmasi fluktuasi signifikan pada luasan tutupan eceng gondok, dengan tren penurunan secara keseluruhan yang mengindikasikan adanya faktor-faktor kontrol, baik alami maupun antropogenik, yang memengaruhi pertumbuhan tanaman invasif ini dari waktu ke waktu. Lebih lanjut, melalui analisis kepadatan (hotspot), penelitian ini secara presisi mengidentifikasi area-area dengan konsentrasi eceng gondok tertinggi, yang secara geospasial merupakan sumber bahan baku yang melimpah dan kontinu.

 

Meskipun analisis spasial menyoroti adanya ketersediaan bahan baku yang tinggi di beberapa lokasi (misalnya di Kalidoni dan Plaju), integrasi data ini dengan realitas sosio-ekonomi menunjukkan adanya batasan aksesibilitas akibat kepemilikan lahan privat. Hal ini menggarisbawahi bahwa strategi pemanfaatan berkelanjutan tidak dapat hanya didasarkan pada ketersediaan geospasial, tetapi harus mempertimbangkan faktor-faktor sosial dan kelembagaan. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa peta hotspot yang dihasilkan tidak hanya menjadi alat untuk pemantauan lingkungan, melainkan juga berfungsi sebagai panduan strategis untuk membangun model kemitraan antara sektor privat dan publik dalam menyalurkan bahan baku ke sentra-sentra kerajinan yang berlokasi di area dengan aksesibilitas dan dukungan komunitas yang kuat. Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa data geospasial memiliki peran krusial dalam merancang solusi yang tidak hanya efisien secara ekologis tetapi juga layak secara ekonomi dan sosial, mengubah masalah lingkungan menjadi peluang bagi keberlanjutan lokal.

5.      REFERENSI

Abba, A., & S, S. (2025). Sustainable management of water hyacinth (Eichhornia crassipes): Community-Led strategies for livelihood enhancement in rural India. Results in Engineering, 26, 105033. https://doi.org/10.1016/j.rineng.2025.105033

Addis, A. D., & Desta, T. T. (2024). The highly invasive water hyacinth ( Eichhornia crassipes [Mart.] Solms) and its control methods in Ethiopia’s freshwater ecosystems. CABI Reviews, cabireviews.2024.0039. https://doi.org/10.1079/cabireviews.2024.0039

Afrilla, D., & Wargadalem, F. R. (2023). Nipah Crafts and Its Impact on Communities and The Environment In 3-4 Ulu Seberang Ulu 1 District, Palembang City. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, 12(2), 158–171. https://doi.org/10.36706/jc.v12i2.21394

Alemneh, L. Y., Aklog, D., Griensven, A. V., Goshu, G., Yalew, S., Abebe, W. B., Dersseh, M. G., Mhiret,

  1. A., Michailovsky, C. I., Amare, S., & Asress, S. (2025). Remote Sensing Approaches for Water Hyacinth and Water Quality Monitoring: Global Trends, Techniques, and Applications. Water, 17(17), 2573. https://doi.org/10.3390/w17172573

Apriliani, W. (2005). Analisis Keuntungan dan Strategi Pemasaran Eceng Gondok Menjadi Tas Di UKM Karya Sejati Palembang (https://repository.unsri.ac.id/) [Skripsi]. Universitas Sriwijaya. https://repository.unsri.ac.id/140680/2/RAMA_54201_05013104015_0020045301_01_FRONT_REF.pdf

Bisht, M. S., Singh, M., Chakraborty, A., & Sharma, V. K. (2024). Genome of the most noxious weed water hyacinth (Eichhornia crassipes) provides insights into plant invasiveness and its translational potential. iScience, 27(9), 110698. https://doi.org/10.1016/j.isci.2024.110698

Correa-Mejía, L. F., & Garcés-Gómez, Y. A. (2025). Water Hyacinth Invasion and Management in a Tropical Hydroelectric Reservoir: Insights from Random Forest and SVM Classification. Ecologies, 6(1),

  1. https://doi.org/10.3390/ecologies6010008

Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional. (2025, September 17). Ekspor Perdana Serat Alam  Dari  Kebumen.  Ekspor                                                                               Perdana           Serat          Alam           Dari Kebumen. https://ditjenpen.kemendag.go.id/berita/ekspor-perdana-serat-alam-dari-kebumen

Eddy, S., Taufik, M., Setiawan, A. A., Utomo, B., & Oktavia, M. (2024). Study of population distribution and benefits of Nipah (Nypa fruticans). E3S Web of Conferences, 475, 02007. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202447502007

 

Gao, B. (1996). NDWI—A normalized difference water index for remote sensing of vegetation liquid water from space. Remote Sensing of Environment, 58(3), 257–266. https://doi.org/10.1016/S0034- 4257(96)00067-3

Gorelick, N., Hancher, M., Dixon, M., Ilyushchenko, S., Thau, D., & Moore, R. (2017). Google Earth Engine: Planetary-scale geospatial analysis for everyone. Remote Sensing of Environment, 202, 18–27. https://doi.org/10.1016/j.rse.2017.06.031

Iasha, C., Sari, D. N. F., Anggleni, A., & Haryani, D. (2024). Utilization of water hyacinth plants as a woven craft business opportunity in subdistrict 1 Ilir Palembang city. 2(01).

Jiang, W., Ni, Y., Pang, Z., He, G., Fu, J., Lu, J., Yang, K., Long, T., & Lei, T. (2020). A New Index for Identifying Water Body from SENTINEL-2 Satellite Remote Sensing Imagery. ISPRS Annals of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, V-3–2020, 33–38. https://doi.org/10.5194/isprs-annals-V-3-2020-33-2020

Maulina, G., Rahmawati, R., Corporate Social Value Department, Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) Ltd., Indonesia, Ainuddin, I., Business Administration Department, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro,Indonesia, Qomariah, A., & Business Administration Department, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro,Indonesia. (2023). Utilization of Water Hyacinth as Organic Fertilizer on Kemaro Island, Palembang City. INTERNATIONAL JOURNAL OF MULTIDISCIPLINARY RESEARCH AND ANALYSIS, 06(09). https://doi.org/10.47191/ijmra/v6-i9-41

McFEETERS, S. K. (1996). The use of the Normalized Difference Water Index (NDWI) in the delineation of open water features. International Journal of Remote Sensing, 17(7), 1425–1432. https://doi.org/10.1080/01431169608948714

Pekel, J.-F., Cottam, A., Gorelick, N., & Belward, A. S. (2016). High-resolution mapping of global surface water and its long-term changes. Nature, 540(7633), 418–422. https://doi.org/10.1038/nature20584

Rakotoarisoa, T. F., Richter, T., Rakotondramanana, H., & Mantilla-Contreras, J. (2016). Turning a Problem Into Profit: Using Water Hyacinth (Eichhornia crassipes) for Making Handicrafts at Lake Alaotra, Madagascar. Economic Botany, 70(4), 365–379. https://doi.org/10.1007/s12231-016-9362-y

Rouse, J., Haas, R. H., Schell, J. A., & Deering, D. W. (1974). Monitoring vegetation systems in the Great Plains with ERTS.

Sari, D. N., Wismoyo, G. S., & Sari, D. N. (2024). Spatio-Temporal Analysis of Water Hyacinth Density (Eichhornia crassipes) in Lake Rawa Pening 2019—2023 Using NDVI Algorithm on Google Earth Engine (GEE). IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1406(1), 012022. https://doi.org/10.1088/1755-1315/1406/1/012022

Taufik Wijaya. (2024, December 6). Nipah yang Mulai Menghilang di Lahan Basah Sumatera Selatan. Mongabay.co.id. https://mongabay.co.id/2024/12/06/nipah-yang-mulai-menghilang-di-lahan-basah- sumatera-selatan/

Thamaga, K. H., & Dube, T. (2018). Remote sensing of invasive water hyacinth (Eichhornia crassipes): A review on applications and challenges. Remote Sensing Applications: Society and Environment, 10, 36–

  1. https://doi.org/10.1016/j.rsase.2018.02.005

Wijayanti, R., Martinus, A., Afriyani, A., Fratiwi, I., Safitri, A., Agus, M., Iskandar, Y., & Hargianti, M. (2025). Edukasi Pemanfaatan Gulma Air (Kiambang dan Enceng Gondok) sebagai Pupuk Organik:

 

Upaya Penerapan Konsep Circular Economy di Kalangan Mahasiswa: A Case Study in Muara Enim, South Sumatra. Kemas Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(1), 14–21. https://doi.org/10.31851/kemas.v3i1.19285

Zhao, J., Xiao, P., Dong, Y., Geiß, C., Zhong, Y., & Taubenböck, H. (2025). Large-scale mapping of water bodies across sensors using unsupervised deep learning. Remote Sensing of Environment, 328, 114877. https://doi.org/10.1016/j.rse.2025.114877

Author

Leave a Reply