Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
ANALISIS KEGAGALAN INOVASI DAERAH DAN POTENSI WILAYAH
KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, SUMATERA SELATAN
Chteiven Valentino, M. Kevin Prayoga
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Indo Global Mandiri
Jl. Jend. Sudirman No.629, Palembang, Sumatera Selatan
Email: chteivenco@gmail.com | prayogakevin29@gmail.com
ABSTRAK
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang
memiliki potensi sumber daya alam dan pertanian yang sangat besar, namun menghadapi berbagai
tantangan dalam implementasi inovasi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah
masalah utama yang menyebabkan kegagalan inovasi daerah di Kabupaten OKI, memetakan potensi
wilayah yang relevan, serta merumuskan rekomendasi pendekatan implementasi yang sesuai dengan
kondisi lokal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan studi literatur dan
analisis dokumen kebijakan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan inovasi daerah di OKI
disebabkan oleh rendahnya kapasitas sumber daya manusia aparatur, keterbatasan infrastruktur teknologi
informasi dan komunikasi, lemahnya koordinasi kelembagaan antar SKPD, rendahnya partisipasi
masyarakat, serta minimnya anggaran untuk penelitian dan pengembangan. Potensi daerah yang dapat
dioptimalkan mencakup sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan energi terbarukan berbasis gambut.
Rekomendasi pendekatan implementasi meliputi penguatan kapasitas SDM, pengembangan ekosistem
inovasi berbasis kemitraan, serta penerapan teknologi tepat guna yang sesuai dengan karakteristik wilayah.
Kata Kunci: Inovasi Daerah, Ogan Komering Ilir, Kegagalan Implementasi, Potensi Wilayah, Perencanaan
Wilayah
ABSTRACT
Ogan Komering Ilir Regency (OKI) is one of the regencies in South Sumatra Province with enormous
potential in natural resources and agriculture, yet faces various challenges in regional innovation
implementation. This study aims to identify the main problems causing regional innovation failure in OKI
Regency, map relevant regional potentials, and formulate appropriate implementation approach
recommendations based on local conditions. The research method uses a qualitative-descriptive approach
with literature study and regional policy document analysis. The results show that regional innovation
failure in OKI is caused by the low capacity of human resources in government apparatus, limited
information and communication technology infrastructure, weak institutional coordination among regional
work units, low community participation, and minimal budget for research and development. Regional
potentials that can be optimized include agriculture, fisheries, tourism, and peat-based renewable energy
sectors. Implementation approach recommendations include strengthening human resource capacity,
developing partnership-based innovation ecosystems, and applying appropriate technology suited to the
characteristics of the region.
Keywords: Regional Innovation, Ogan Komering Ilir, Implementation Failure, Regional Potential,
Regional Planning
Halaman 1 dari 7
Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
I. PENDAHULUAN
Inovasi daerah merupakan instrumen strategis dalam
percepatan pembangunan dan peningkatan pelayanan
publik di era desentralisasi. Dalam konteks Undang
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun
2017 tentang Inovasi Daerah, setiap pemerintah
daerah dituntut untuk mampu mengembangkan dan
mengimplementasikan inovasi sebagai upaya
peningkatan kinerja penyelenggaraan pemerintahan.
Namun, dalam praktiknya, banyak inisiatif inovasi di
tingkat kabupaten/kota yang tidak berhasil mencapai
tujuan yang ditetapkan, bahkan mengalami kegagalan
total sebelum dapat memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat (Hartley, 2005; Borins, 2001).
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang terletak
di bagian selatan Provinsi Sumatera Selatan
merupakan salah satu kabupaten terluas di Indonesia
dengan luas wilayah sekitar 19.023,47 km².
Kabupaten ini memiliki karakteristik wilayah yang
unik dengan dominasi lahan rawa dan gambut, serta
potensi sumber daya alam yang melimpah di sektor
pertanian, perkebunan, perikanan, dan kehutanan.
Namun, berbagai program inovasi yang telah
dirancang belum mampu memberikan dampak
optimal terhadap kesejahteraan masyarakat dan
peningkatan daya saing daerah (BPS OKI, 2023).
Berbagai kajian menunjukkan bahwa kegagalan
inovasi daerah di wilayah-wilayah tertinggal atau
berkembang seperti OKI seringkali bersifat
multidimensional, mencakup aspek kelembagaan,
sumber daya manusia, teknologi, dan partisipasi
masyarakat (Rogers, 2003; Mulgan & Albury, 2003).
Pemahaman yang komprehensif terhadap faktor
faktor penghambat ini menjadi krusial untuk
merancang strategi implementasi yang lebih efektif
dan berkelanjutan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi
tantangan dan masalah utama yang menyebabkan
kegagalan implementasi inovasi daerah di Kabupaten
OKI; (2) memetakan potensi daerah yang relevan
sebagai modal dasar pengembangan inovasi; dan (3)
merumuskan rekomendasi pendekatan implementasi
inovasi yang tepat sasaran berdasarkan karakteristik
wilayah OKI. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi akademis sekaligus menjadi
referensi praktis bagi pemerintah daerah dan
pemangku kepentingan dalam pengembangan inovasi
daerah.
II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
deskriptif yang berfokus pada analisis mendalam
terhadap kondisi implementasi inovasi di Kabupaten
OKI. Metode pengumpulan data dilakukan melalui
studi literatur terhadap jurnal ilmiah, dokumen
kebijakan, laporan evaluasi, dan data statistik daerah.
Data primer diperoleh melalui tinjauan dokumen
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kabupaten OKI, laporan kinerja instansi
pemerintah (LKIP), serta berbagai regulasi terkait
inovasi daerah.
Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif
dengan metode deskriptif-analitis. Desain ini dipilih
untuk melakukan eksplorasi mendalam terhadap
kondisi implementasi inovasi di Kabupaten OKI serta
mensinkronkan antara potensi biofisik lahan dengan
variabel sosial-ekonomi masyarakat lokal. Fokus
utama analisis adalah membedah kegagalan inovasi
daerah sebelumnya untuk merumuskan model
revitalisasi lahan lebak yang lebih adaptif.
Analisis data menggunakan teknik analisis isi
(content analysis) dan analisis SWOT untuk
mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman terkait implementasi inovasi daerah.
Kerangka analisis mengacu pada teori difusi inovasi
Rogers (2003), model kegagalan inovasi sektor
publik Mulgan dan Albury (2003), serta teori
kapasitas daerah dalam konteks desentralisasi
(Smoke, 2003). Validasi temuan dilakukan melalui
triangulasi sumber dan konfirmasi dengan kajian
pustaka yang relevan
A. Gambaran Umum Kabupaten Ogan Komering
Ilir
Kabupaten Ogan Komering Ilir secara administratif
terdiri dari 18 kecamatan dengan 317 desa/kelurahan.
Berdasarkan data BPS (2023), jumlah penduduk OKI
mencapai 822.763 jiwa. Kondisi geografis
didominasi oleh lahan gambut (sekitar 686.000 ha),
rawa-rawa, dan perairan, sehingga aksesibilitas antar
wilayah menjadi tantangan tersendiri (Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah OKI, 2021).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten OKI
pada tahun 2022 mencapai 69,28, masih berada di
bawah rata-rata Provinsi Sumatera Selatan sebesar
70,90. Kondisi ini mengindikasikan adanya gap
pembangunan yang signifikan dan urgensi
Halaman 2 dari 7
Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
implementasi inovasi daerah yang efektif (BPS
Sumsel, 2023).
B. Identifikasi Tantangan dan Masalah
Implementasi Inovasi
1. Rendahnya Kapasitas SDM Aparatur
Salah satu faktor dominan yang menyebabkan
kegagalan implementasi inovasi di OKI adalah
rendahnya kapasitas SDM aparatur pemerintah.
Berdasarkan data BKPSDM OKI (2022), hanya
23,4% dari total ASN yang memiliki latar belakang
pendidikan minimal S1 pada bidang yang relevan.
Kondisi ini berdampak pada lemahnya kemampuan
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program
inovasi (Prasetyo & Trisyulianti, 2018).
Carayannis dan Campbell (2009) menegaskan bahwa
kapasitas manusia merupakan fondasi utama dalam
sistem inovasi. Tingginya tingkat mutasi pegawai di
OKI yang rata-rata mencapai 18,7% per tahun
menyebabkan program inovasi seringkali terhenti
karena pergantian pengelola (Supriyanto, 2020).
2. Keterbatasan Infrastruktur TIK
Infrastruktur TIK di Kabupaten OKI masih sangat
terbatas.
Data Dinas Kominfo OKI (2022)
menunjukkan bahwa tingkat penetrasi internet baru
mencapai 34,2%, jauh di bawah rata-rata nasional.
Dari 317 desa/kelurahan, hanya 112 desa (35,3%)
yang memiliki akses internet memadai. Kondisi
geografis berupa hamparan rawa dan gambut
mempersulit pembangunan infrastruktur fisik (Heeks,
2003; Ndou, 2004).
3. Lemahnya Koordinasi Kelembagaan
Evaluasi SAKIP 2022 Kabupaten OKI mendapatkan
nilai C dengan skor 50,31, mencerminkan masih
lemahnya sistem perencanaan dan keterpaduan
program antar SKPD. Ego sektoral yang tinggi dan
minimnya forum koordinasi yang terstruktur
menyebabkan program inovasi berjalan sporadis dan
tidak terintegrasi (Agranoff, 2007; Meuleman, 2010).
4. Rendahnya Partisipasi dan Literasi Masyarakat
Rata-rata lama sekolah penduduk OKI baru mencapai
6,8 tahun (BPS OKI, 2022). Kondisi ini berdampak
pada rendahnya literasi digital dan partisipasi aktif
dalam program inovasi. Rogers (2003) menjelaskan
bahwa tingkat adopsi inovasi sangat dipengaruhi oleh
karakteristik adopter, termasuk tingkat pendidikan
dan keterbukaan terhadap perubahan.
5. Keterbatasan Anggaran dan Komitmen
Politik
Alokasi anggaran untuk inovasi di APBD OKI tidak
melebihi 0,3% dari total APBD. Proporsi belanja
pegawai yang mencapai 48,2% mempersempit ruang
fiskal untuk inovasi. Mulgan dan Albury (2003)
menegaskan bahwa tanpa komitmen politik dan
dukungan anggaran yang memadai, program inovasi
sektor publik sulit mencapai keberlanjutan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Potensi Daerah Kabupaten Ogan Komering
Ilir
1. Potensi Pertanian dan Perkebunan
Kabupaten OKI merupakan sentra produksi pangan
terbesar di Sumatera Selatan dengan luas areal panen
padi sawah mencapai 185.432 ha dan produksi 1,03
juta ton GKG per tahun. Komoditas perkebunan
meliputi kelapa sawit (347.214 ha), karet (186.543
ha), dan kelapa (45.678 ha) sebagai tulang punggung
perekonomian daerah (BPS OKI, 2023; Dinas
Pertanian OKI, 2022).
2. Potensi Perikanan dan Kelautan
Dengan luas perairan umum lebih dari 200.000 ha,
OKI memiliki potensi perikanan yang sangat besar.
Produksi ikan segar mencapai 58.742 ton per tahun
dengan nilai Rp 526,4 miliar. Sistem lelang lebak
lebung berbasis digital dan produk olahan ikan
bernilai tambah merupakan peluang inovasi yang
belum tergarap optimal (Dinas Kelautan dan
Perikanan OKI, 2022).
3. Potensi Ekowisata
Keunikan ekosistem gambut OKI dengan ikan
arwana (Scleropages formosus) endemik dan Taman
Nasional Sembilang memberikan potensi ekowisata
berbasis konservasi yang prospektif. Wisata sungai,
wisata budaya Suku Ogan dan Komering, serta
festival lokal berpotensi menjadi sumber PAD
alternatif (Kementerian Pariwisata, 2022).
4. Potensi Energi Terbarukan
Rata-rata iradiasi sinar matahari di OKI mencapai
4,5–5,0 kWh/m²/hari, sangat potensial untuk PLTS di
desa terpencil. Potensi biomassa dari limbah
perkebunan (tandan kosong kelapa sawit, sekam padi)
juga dapat dikembangkan untuk pembangkitan energi
biogas (ESDM OKI, 2022).
Halaman 3 dari 7
Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
Rekomendasi Pendekatan Implementasi
Inovasi
1. Pendekatan Quadruple Helix dan Inovasi
Terbuka
Pengembangan ekosistem inovasi di OKI perlu
mengadopsi pendekatan Quadruple Helix yang
mengintegrasikan pemerintah, akademisi, dunia
usaha, dan masyarakat sipil dalam kerangka
kolaboratif
yang
Campbell, 2009).
terstruktur.
(Carayannis
2. Penguatan Kapasitas SDM Berbasis
Kompetensi
Rekomendasi mencakup: (a) pengembangan
kurikulum pelatihan inovasi yang disesuaikan
kebutuhan OKI; (b) program magang dan studi
banding ke daerah berhasil; (c) rekrutmen talenta
muda berbasis teknologi melalui CPNS dan PPPK;
serta (d) pembentukan community of practice inovasi
di lingkungan pemerintah daerah (Nonaka &
Takeuchi, 1995).
3. Implementasi Teknologi Tepat Guna
Berbasis Kearifan Lokal
Teknologi tepat guna yang mengintegrasikan kearifan
lokal memiliki peluang adopsi lebih tinggi dibanding
teknologi impor yang tidak sesuai konteks lokal.
Contoh konkret: sistem irigasi adaptif berbasis
pengetahuan petani lokal, pengelolaan lebak lebung
digital, dan produk turunan kelapa sawit berbasis
teknologi ramah lingkungan (Sutarno & Mulyanto,
2009).
4. Penguatan Partisipasi Masyarakat
Strategi yang direkomendasikan: (a) pemanfaatan
tokoh adat sebagai agen perubahan; (b) media
komunikasi inovasi berbahasa dan simbol lokal; (c)
forum musyawarah inovasi tingkat desa; serta (d)
program literasi digital berbasis komunitas
memanfaatkan infrastruktur yang ada (masjid,
sekolah, balai desa) (Rogers, 2003; Taufiq, 2014).
5. Reformasi Tata Kelola Inovasi
Diperlukan: (a) Perda Sistem Inovasi Daerah (SIDa)
yang komprehensif; (b) Tim Koordinasi Inovasi
Daerah (TKID) lintas sektor; (c) sistem monitoring
berbasis indikator terukur; dan (d) anggaran inovasi
terproteksi minimal 1% APBD. Metagovernance
yang efektif menjadi kunci koordinasi berbagai aktor
dan instrumen kebijakan inovasi (Meuleman, 2010;
Christensen & Laegreid, 2007).
Sinkronisasi Teknologi IoT dan Tantangan
Infrastruktur Daerah
&
Penerapan sistem polder mini berbasis Internet of
Things (IoT) di lahan lebak Kabupaten OKI
merupakan langkah revolusioner untuk memitigasi
fluktuasi hidrologis yang ekstrem. Sensor IoT yang
memantau tinggi muka air tanah (MAT) dan pH tanah
secara real-time memungkinkan otomatisasi pintu air
untuk menjaga kondisi lahan tetap optimal bagi
pertanian.Implementasi
teknologi
ini
harus
menghadapi realitas keterbatasan infrastruktur TIK di
Kabupaten OKI, di mana tingkat penetrasi internet
baru mencapai 34,2% dan hanya 35,3% desa yang
memiliki akses internet memadai. Kondisi geografis
berupa hamparan rawa dan gambut yang luas menjadi
tantangan fisik dalam Pembangunan jaringan
komunikasi. Oleh karena itu, inovasi SWM ini perlu
didukung dengan pengembangan infrastruktur digital
yang merata agar sensor IoT dapat berfungsi secara
stabil di lokasi terpencil.
Transformasi Sosial-Ekonomi melalui Model
Double Track dan BUMDes
Inovasi tata ruang melalui sistem double track
menawarkan solusi atas konflik pemanfaatan ruang
dengan memadukan kawasan budidaya pertanian
perikanan dan jalur konservasi rawa. Model ini
diperkuat dengan pendekatan Agrosilvofishery yang
menggabungkan tanaman padi, budidaya ikan lokal,
dan pohon kayu rawa dalam satu ekosistem produktif.
Untuk menjamin keberlanjutan ekonomi dari model
ini,
penguatan kelembagaan melalui BUMDes
menjadi kunci utama. BUMDes diproyeksikan
berperan sebagai agregator hasil produksi pertanian
dan perikanan, sekaligus memutus ketergantungan
petani pada tengkulak yang selama ini menghambat
kesejahteraan mereka. Strategi ini juga menekankan
pada hilirisasi produk lokal, seperti kerajinan purun
dan pengolahan ikan, dengan melibatkan kelompok
perempuan serta pemuda desa (agropreneur) untuk
menciptakan ekonomi sirkular yang inklusif.
Revitalisasi Sistem L3 Berbasis Pelestarian
Ekosistem
Sistem Lelang Lebak Lebung (L3) yang merupakan
kearifan lokal dalam pengelolaan perikanan di OKI
perlu direstorasi maknanya. Alih-alih hanya menjadi
instrumen eksploitasi sumber daya ikan untuk
Halaman 4 dari 7
Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemenang
lelang harus diberikan mandat penuh sebagai
pengelola ekosistem.
Adanya integrasi sistem L3 dengan manajemen
lingkungan yang lebih luas untuk mencegah
kerusakan ekosistem gambut dan lebak. Hal ini
sejalan dengan temuan bahwa restorasi berbasis
komunitas terbukti jauh lebih efektif dalam menjaga
kelestarian fungsi hidrologis rawa dibandingkan
pendekatan top-down yang kaku. Dengan demikian,
keberhasilan revitalisasi lahan lebak di OKI sangat
bergantung pada kolaborasi antara teknologi digital
(IoT), kebijakan tata ruang yang adaptif, dan
penguatan partisipasi masyarakat lokal.
IV. KESIMPULAN
Penelitian
ini
berhasil mengidentifikasi lima
tantangan utama yang menjadi penyebab kegagalan
implementasi inovasi daerah di Kabupaten OKI,
yaitu: (1) rendahnya kapasitas SDM aparatur; (2)
keterbatasan infrastruktur TIK; (3) lemahnya
koordinasi kelembagaan; (4) rendahnya partisipasi
dan literasi masyarakat; dan (5) keterbatasan
anggaran serta komitmen politik yang tidak
konsisten. Tantangan-tantangan ini bersifat saling
berkaitan dan membutuhkan pendekatan sistemik
yang komprehensif untuk mengatasinya.
Di sisi lain, Kabupaten OKI memiliki potensi daerah
yang sangat besar dalam sektor pertanian, perikanan,
pariwisata, dan energi terbarukan yang dapat menjadi
modal dasar pengembangan inovasi yang
berkelanjutan. Optimalisasi potensi ini membutuhkan
pendekatan inovasi yang tepat, yaitu pendekatan
Quadruple Helix, penguatan kapasitas SDM berbasis
kompetensi, implementasi teknologi tepat guna
berbasis kearifan lokal, penguatan partisipasi
masyarakat melalui komunikasi inovasi yang efektif,
serta reformasi tata kelola inovasi melalui penguatan
regulasi daerah.
Temuan penelitian ini memiliki implikasi praktis bagi
Pemerintah Kabupaten OKI dalam menyusun strategi
pengembangan inovasi daerah yang lebih efektif dan
berkelanjutan. Diperlukan penelitian lanjutan yang
bersifat empiris dengan metode survei lapangan
untuk memvalidasi dan memperdalam temuan yang
telah diperoleh melalui pendekatan studi literatur ini.
Revitalisasi lahan lebak di Kabupaten Ogan
Komering Ilir (OKI) menuntut pendekatan yang
integratif dan sistemik, yang tidak hanya berfokus
pada aspek teknis tetapi juga menyentuh akar
permasalahan tata kelola. Penggunaan teknologi
Smart Wetland Management melalui polder mini
berbasis Internet of Things (IoT) terbukti menjadi
solusi krusial untuk mengatasi hambatan fisik berupa
fluktuasi hidrologis ekstrem dan tingkat keasaman
tanah yang tinggi. Integrasi teknologi ini dengan
inovasi tata ruang seperti sistem double track dan
model agrosilvofishery mampu menciptakan
keseimbangan antara produktivitas pertanian
perikanan dengan pelestarian fungsi ekologis rawa.
keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada
reformasi kebijakan daerah untuk mengatasi kendala
mendasar, seperti rendahnya kapasitas SDM aparatur,
keterbatasan infrastruktur TIK, dan minimnya
anggaran penelitian. Penguatan kelembagaan melalui
BUMDes dan redesain sistem Lelang Lebak Lebung
(L3) yang berorientasi lingkungan menjadi kunci
untuk menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang
inklusif
bagi
masyarakat
lokal.
Dengan
mensinergikan inovasi digital, kebijakan tata ruang
yang adaptif, dan partisipasi aktif komunitas,
Kabupaten OKI berpotensi menjadi model nasional
dalam pengelolaan lahan basah berkelanjutan yang
mampu menyeimbangkan profitabilitas ekonomi
dengan kelestarian alam.
Rekomendasi
Percepatan infrastruktur TIK menjadi prioritas utama
untuk mendukung operasional sensor polder mini
berbasis IoT yang berfungsi memantau kondisi air
dan pH tanah secara real-time. Teknologi ini
dikolaborasikan dengan penerapan tata ruang yang
adaptif melalui zonasi double track, yang membagi
kawasan antara produksi dan konservasi, serta
penggunaan
model
agrosilvofishery
yang
memadukan tanaman padi, ikan lokal, dan pohon
kayu rawa dalam satu bentang lahan. Terakhir,
pengembangan ekonomi harus bersifat inklusif
dengan mendorong hilirisasi produk lokal seperti
kerajinan purun dan olahan ikan yang melibatkan
pemuda
desa
sebagai
agropreneur,
serta
mengedepankan restorasi berbasis komunitas yang
terbukti lebih efektif dalam mencegah kerusakan
lahan dibandingkan pendekatan dari atas ke bawah.
Saran
Berdasarkan analisis terhadap hambatan inovasi dan
potensi wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir
Halaman 5 dari 7
Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
(OKI), strategi revitalisasi lahan lebak memerlukan
langkah-langkah konkret yang mengintegrasikan
aspek regulasi, teknologi, dan ekonomi lokal. Salah
satu prioritas utama adalah penguatan tata kelola
melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) Sistem
Inovasi Daerah (SIDa) yang komprehensif guna
memberikan landasan hukum yang kuat dan menjamin
keberlanjutan program inovasi. Sejalan dengan itu,
perlu dibentuk Tim Koordinasi Inovasi Daerah (TKID)
yang berfungsi untuk memecah ego sektoral antar
instansi dan memastikan alokasi anggaran inovasi
terproteksi minimal 1% dari APBD.
percepatan pembangunan jaringan telekomunikasi di
area rawa sangat mendesak untuk mendukung
efektivitas teknologi polder mini berbasis Internet of
Things (IoT) yang memantau tinggi air dan pH tanah
secara real-time. Teknologi ini sebaiknya dipadukan
dengan penerapan tata ruang adaptif melalui sistem
double track dan model agrosilvofishery yang
mensinergikan pertanian padi, budidaya ikan lokal,
dan pelestarian pohon rawa dalam satu bentang lahan.
penguatan ekonomi inklusif harus difokuskan pada
optimalisasi peran BUMDes sebagai agregator hasil
bumi guna memutus rantai ketergantungan petani pada
tengkulak. Program hilirisasi produk lokal, seperti
kerajinan purun dan pengolahan ikan rawa, perlu
melibatkan kelompok perempuan serta pemuda desa
(agropreneur) sebagai motor penggerak ekonomi
kreatif. Terakhir, revitalisasi sistem kearifan lokal
seperti Lelang Lebak Lebung (L3) harus diredesain
agar pemenang lelang memiliki tanggung jawab moral
dan hukum untuk menjaga kelestarian ekosistem,
bukan sekadar mengeksploitasi sumber daya ikan.
REFERENSI
Agranoff, R. (2007). Managing within networks:
Adding value to public organizations.
Georgetown University Press.
Badan Pusat Statistik Kabupaten OKI. (2023).
Kabupaten Ogan Komering Ilir dalam angka
2023. BPS Kabupaten OKI.
Badan Pusat Statistik Sumatera Selatan. (2023).
Sumatera Selatan dalam angka 2023. BPS
Provinsi Sumatera Selatan.
Borins, S. (2001). Encouraging innovation in the
public sector. Journal of Intellectual Capital,
2(3), 310–319.
Carayannis, E. G., & Campbell, D. F. J. (2009).
‘Mode 3’ and ‘Quadruple Helix’: Toward a
21st century fractal innovation ecosystem.
International
Journal
of
Technology
Management, 46(3–4), 201–234.
Christensen, T., & Laegreid, P. (2007). The whole-of
government approach to public sector
reform. Public Administration Review,
67(6), 1059–1066.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten OKI.
(2022).
Laporan
tahunan
perikanan
Kabupaten OKI 2022. Pemerintah Kabupaten
OKI.
Dinas Pertanian Kabupaten OKI. (2022). Statistik
pertanian Kabupaten OKI 2022. Pemerintah
Kabupaten OKI.
Hartley, J. (2005). Innovation in governance and
public services: Past and present. Public
Money and Management, 25(1), 27–34.
Heeks,
R.
(2003).
Most eGovernment-for
development projects fail: How can risks be
reduced? IDPM i-Government Working
Paper, 14.
Meuleman, L. (2010). The cultural dimension of
metagovernance: Why governance doctrines
may fail. Public Organization Review, 10(1),
49–70.
Mulgan, G., & Albury, D. (2003). Innovation in the
public sector. Strategy Unit, Cabinet Office.
Ndou, V. (2004). E-Government for developing
countries: Opportunities and challenges.
Electronic Journal of Information
Systems in Developing Countries, 18(1), 1–24.
Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The knowledge
creating company: How Japanese companies
create the dynamics of innovation. Oxford
University Press.
Prasetyo, A. B., & Trisyulianti, E. (2018). Pengaruh
kompetensi dan motivasi terhadap kinerja
aparatur sipil negara.
Jurnal
Manajemen
Pembangunan Daerah, 10(1), 1–12.
Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th
ed.). Free Press.
Smoke, P. (2003). Decentralisation in Africa: Goals,
dimensions, myths and challenges. Public
Administration and Development, 23(1), 7
16.
Supriyanto, A. S. (2020). Analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi
implementasi
inovasi
Halaman 6 dari 7
Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota 2026
pemerintah daerah.
Jurnal
Ilmu Administrasi
Publik, 8(2), 45–60.
Suryaningrat, I. B., Amrullah, A., & Maulana, H.
(2020). Adopsi inovasi teknologi pertanian
pada komunitas petani di daerah tertinggal.
Jurnal
Teknologi Pertanian, 21(3), 179–190.
Sutarno, & Mulyanto, A. (2009). Pengembangan
teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal.
Jurnal
Teknologi dan Kejuruan, 32(2), 211
222.
Taufiq, M. (2014). Implementasi program literasi
digital
dalam meningkatkan partisipasi
masyarakat.
Jurnal
Ilmu Komunikasi, 12(1),
25–38.
Halaman 7 dari 7
