Site Loader

Transformasi Perencanaan Wilayah Berbasis Smart Region pada Kawasan Lahan Gambut: Studi Kasus Kabupaten Ogan Komering Ilir

Salsa Billa Putri Ramadina, Vania Ayu Salsabilla Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Indo Global Mandiri, Indonesia

ABSTRAK

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki ekosistem lahan gambut yang luas serta berperan penting dalam sistem lingkungan regional. Namun demikian, wilayah ini juga menghadapi berbagai permasalahan seperti kebakaran hutan dan lahan gambut, degradasi lingkungan, serta keterbatasan pengelolaan wilayah berbasis teknologi dan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan implementasi inovasi pembangunan wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir serta merumuskan pendekatan inovatif yang dapat diterapkan dalam perencanaan wilayah berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif terhadap berbagai penelitian dan artikel ilmiah terkait pengelolaan gambut, kebakaran lahan, serta pembangunan wilayah berbasis inovasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama pembangunan wilayah di Kabupaten OKI meliputi degradasi ekosistem gambut, keterbatasan teknologi pemantauan wilayah, serta rendahnya integrasi kebijakan perencanaan wilayah berbasis data spasial. Namun di sisi lain wilayah ini memiliki potensi besar pada sektor pertanian lahan basah, ekonomi berbasis ekosistem gambut, serta pengembangan kawasan berbasis ekologi. Oleh karena itu diperlukan pendekatan inovatif seperti smart peatland management, digital spatial planning, serta pengembangan smart eco-region yang mengintegrasikan teknologi, ekologi, dan ekonomi lokal dalam pembangunan wilayah.

Kata kunci: inovasi wilayah, perencanaan wilayah, gambut, pembangunan berkelanjutan, OKI

ABSTRACT

Ogan Komering Ilir Regency (OKI) is one of the regions in South Sumatra Province that has a vast peatland ecosystem and plays an important role in the regional environmental system. However, this region also faces various problems such as forest fires and peatlands, environmental degradation, and limitations in technology and data-based area management. This research aims to identify the challenges of implementing regional development innovation in Ogan Komering Ilir Regency and formulate innovative approaches that can be applied in sustainable regional planning. The method used is a literature study with a qualitative descriptive approach to various researches and scientific articles related to peat management, land fires, and innovation-based regional development. The results of the study show that the main challenges of regional development in OKI Regency include the degradation of peat ecosystems,  limitations of regional monitoring technology, and low integration of spatial data-based regional planning policies. But on the other hand, this region has great potential in the wetland agriculture sector, peat ecosystem-based economy, and ecologically based regional development. Therefore, an innovative approach is needed such as smart peatland management, digital spatial planning, and the development of smart eco-region that integrates technology, ecology, and local economy in regional development.

Keywords: regional innovation, regional planning, peat, sustainable development, OKI

PENDAHULUAN
Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan salah satu wilayah dengan ekosistem gambut yang luas di Provinsi Sumatera Selatan. Kawasan ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi, terutama dalam pengaturan sistem hidrologi serta penyimpanan karbon global. Namun dalam beberapa dekade terakhir, kawasan gambut di wilayah ini mengalami tekanan yang cukup besar akibat perubahan penggunaan lahan, ekspansi perkebunan, serta aktivitas pembukaan lahan yang tidak berkelanjutan. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada
kerusakan lingkungan serta gangguan sosial ekonomi masyarakat.

Penelitian menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Selatan, termasuk Kabupaten OKI, menjadi salah satu masalah lingkungan yang cukup serius karena sebagian besar kebakaran terjadi pada ekosistem gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan. Selain faktor alam seperti musim kemarau, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan juga menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran lahan di wilayah ini.

Selain permasalahan kebakaran lahan, pembangunan wilayah di Kabupaten OKI juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan ruang yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh luasnya wilayah serta kompleksitas karakteristik lingkungan yang didominasi oleh lahan rawa dan gambut. Oleh karena itu, perencanaan wilayah yang inovatif dan berbasis teknologi menjadi sangat penting untuk mendukung pembangunan wilayah yang berkelanjutan.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan pembangunan wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang memiliki karakteristik wilayah rawa dan lahan gambut yang luas di Provinsi Sumatera Selatan, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut:
1. Apa saja tantangan utama dalam implementasi inovasi pembangunan wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir, khususnya pada wilayah yang didominasi oleh ekosistem gambut dan rawa?
2. Bagaimana potensi wilayah yang dimiliki Kabupaten Ogan Komering Ilir dalam mendukung pengembangan inovasi pembangunan wilayah yang berkelanjutan?
3. Bagaimana pendekatan (approach) inovatif yang dapat diterapkan dalam perencanaan pembangunan wilayah di Kabupaten Ogan Komering Ilir agar  mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan wilayah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan?
4. Bagaimana penerapan konsep inovasi pembangunan wilayah berbasis teknologi dan ekologi seperti smart region, pengelolaan gambut berkelanjutan, serta perencanaan wilayah berbasis data spasial dapat diimplementasikan dalam pembangunan wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir?

METODE
Metode ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis tantangan, potensi wilayah, serta inovasi pembangunan wilayah pada kawasan lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur dari berbagai sumber seperti artikel jurnal ilmiah, buku, serta dokumen perencanaan wilayah yang berkaitan dengan pengelolaan lahan gambut dan pembangunan wilayah berkelanjutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kabupaten Ogan Komering Ilir yang berada di wilayah Sumatera Selatan memiliki karakteristik wilayah yang didominasi oleh kawasan rawa dan lahan gambut. Kondisi geografis tersebut menjadikan wilayah ini memiliki fungsi ekologis yang penting sekaligus potensi yang cukup besar dalam mendukung pembangunan wilayah berbasis sumber daya alam. Namun demikian, pengelolaan wilayah gambut di daerah ini masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti kebakaran hutan dan lahan, perubahan penggunaan lahan, serta masih terbatasnya pemanfaatan teknologi dalam proses perencanaan dan pengelolaan wilayah.

Hasil kajian menunjukkan bahwa salah satu permasalahan utama yang sering terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah kebakaran hutan dan lahan gambut. Lahan gambut memiliki sifat yang mudah terbakar ketika mengalami penurunan muka air tanah atau kondisi pengeringan yang berlebihan, terutama pada musim kemarau. Kebakaran ini sering kali dipicu oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan. Dampak
dari kebakaran lahan gambut sangat luas, mulai dari kerusakan ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga munculnya kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

Permasalahan lain yang juga cukup penting adalah perubahan penggunaan lahan gambut menjadi kawasan perkebunan atau pertanian. Proses konversi lahan tersebut biasanya dilakukan dengan membuat kanal drainase untuk mengeringkan lahan gambut. Kondisi ini dapat menyebabkan terganggunya sistem hidrologi gambut sehingga meningkatkan risiko kerusakan lingkungan serta memperbesar potensi kebakaran lahan.

Meskipun menghadapi berbagai permasalahan, Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki potensi wilayah yang cukup besar untuk dikembangkan. Salah satu potensi utama adalah keberadaan ekosistem gambut yang luas yang memiliki fungsi ekologis penting serta nilai ekonomi apabila dikelola secara berkelanjutan. Pengelolaan gambut yang baik dapat mendukung pengembangan sektor pertanian lahan basah tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Potensi lain yang dimiliki wilayah ini adalah sektor pertanian dan perkebunan. Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki lahan yang cukup luas untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian seperti padi, kelapa sawit, serta tanaman hortikultura tertentu yang sesuai dengan karakteristik wilayah rawa. Dengan penerapan teknologi pertanian yang tepat, sektor ini dapat menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.

Selain sektor pertanian, wilayah ini juga memiliki potensi dalam pengembangan sektor perikanan air tawar. Keberadaan sungai, rawa, dan danau yang cukup luas memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan budidaya perikanan maupun penangkapan ikan secara berkelanjutan.  Pengembangan sektor ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.

Potensi berikutnya adalah pengembangan ekowisata berbasis lingkungan. Kawasan rawa dan ekosistem gambut memiliki keunikan ekologi yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata alam. Pengembangan ekowisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tetapi juga dapat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian lingkungan.

Potensi lain yang tidak kalah penting adalah pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Berbagai produk lokal seperti hasil perikanan, produk pertanian, serta kerajinan masyarakat dapat dikembangkan melalui program  pemberdayaan ekonomi lokal. Penguatan sektor usaha mikro dan kecil dapat menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rekomendasi Approach Inovasi Pembangunan Wilayah di Kabupaten OKI

1. Penerapan Sistem Perencanaan Wilayah Berbasis Data Spasial Digital (Spatial
Planning System). Inovasi ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Geographic Information System (GIS) dan citra satelit untuk memetakan kondisi penggunaan lahan, kawasan lindung, kawasan budidaya, serta potensi wilayah secara lebih akurat. Data spasial tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam penyusunan rencana tata ruang wilayah sehingga pembangunan yang dilakukan tidak merusak ekosistem gambut yang sensitif. Dengan sistem ini, pemerintah daerah dapat memantau perubahan penggunaan lahan secara lebih cepat serta mengendalikan pembangunan agar sesuai dengan rencana tata ruang wilayah.

2. Digital Twin Region Untuk Perencanaan Wilayah. Digital twin merupakan
teknologi yang banyak digunakan di negara maju seperti Singapura dan Belanda dalam perencanaan kota. Konsep ini adalah membuat model digital tiga dimensi dari wilayah nyata yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi pembangunan. Di Kabupaten OKI, teknologi ini dapat digunakan untuk memodelkan kondisi wilayah gambut, kawasan perkotaan, jaringan transportasi, serta kawasan pertanian. Melalui sistem ini, pemerintah daerah dapat melakukan simulasi dampak pembangunan sebelum proyek dilaksanakan, misalnya dampak pembangunan jalan terhadap sistem hidrologi gambut
atau dampak pembangunan kawasan industri terhadap lingkungan. Dengan digital twin, proses perencanaan wilayah menjadi lebih akurat, berbasis data, dan dapat meminimalkan risiko kesalahan pembangunan.

3. Smart Peatland Management System, yaitu sistem pengelolaan lahan gambut
berbasis teknologi Internet of Things (IoT). Untuk mengembangkan teknologi
pemantauan lahan basah menggunakan sensor digital. Sistem ini dapat dipasang di kawasan gambut Kabupaten OKI untuk memantau kondisi tinggi muka air,
kelembaban tanah, serta potensi kebakaran secara real-time. Sensor tersebut terhubung dengan pusat data pemerintah daerah sehingga kondisi lingkungan dapat dipantau secara terus menerus. Jika terjadi penurunan muka air gambut yang berpotensi menyebabkan kebakaran, sistem akan memberikan peringatan dini sehingga tindakan pencegahan dapat segera dilakukan. Inovasi ini sangat penting bagi Kabupaten OKI karena wilayahnya sering menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan gambut.

4. Pengembangan Paludikultur Berkelanjutan, merupakan salah satu inovasi
pembangunan wilayah yang dapat diterapkan pada kawasan lahan gambut di
Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Paludikultur merupakan sistem budidaya pertanian pada lahan basah tanpa mengeringkan tanah gambut sehingga kondisi hidrologi gambut tetap terjaga. Inovasi ini dapat dilakukan dengan mengembangkan komoditas tanaman yang adaptif terhadap lahan gambut seperti sagu, purun, jelutung, dan beberapa tanaman hortikultura lahan basah yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain menjaga keberlanjutan ekosistem gambut, pendekatan ini juga mampu mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi akibat pengeringan gambut. Dalam konteks perencanaan wilayah, pengembangan paludikultur dapat diintegrasikan dengan pengelolaan tata air gambut, pembangunan sekat kanal, serta pemberdayaan masyarakat lokal melalui pelatihan budidaya lahan basah sehingga kawasan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir dapat dimanfaatkan secara produktif sekaligus tetap menjaga fungsi ekologisnya.

5. Pengembangan Ekowisata Gambut Berbasis Teknologi Digital dan Virtual
Tourism. Konsep ini telah berkembang di berbagai negara sebagai strategi untuk
memperkenalkan potensi wisata alam kepada masyarakat luas. Di Kabupaten OKI, kawasan ekosistem gambut dapat dikembangkan sebagai objek wisata edukasi lingkungan yang dilengkapi dengan teknologi digital seperti virtual tour, aplikasi informasi wisata, serta sistem reservasi wisata berbasis online. Melalui teknologi tersebut, wisatawan dapat memperoleh informasi mengenai keunikan ekosistem gambut, keanekaragaman hayati, serta upaya konservasi yang dilakukan di wilayah tersebut. Selain meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, pengembangan ekowisata juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

6. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Melalui Digitalisasi Produk Lokal dan
Ekonomi Kreatif Berbasis Teknologi. Kabupaten OKI memiliki berbagai potensi
produk lokal seperti kerajinan purun, produk pertanian, serta hasil perikanan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi. Pemerintah daerah dapat mendorong pemanfaatan platform digital untuk memasarkan produk-produk tersebut secara lebih luas melalui e-commerce, media sosial, serta marketplace khusus produk daerah. Selain itu, pelatihan mengenai desain produk, branding, serta pemasaran digital juga perlu diberikan kepada pelaku usaha lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan memanfaatkan teknologi digital, produk lokal dari Kabupaten OKI dapat memiliki daya saing yang lebih tinggi di tingkat nasional maupun internasional.

7. Pengembangan Ekowisata Berbasis Ekosistem Gambut. Kabupaten OKI memiliki potensi ekosistem gambut yang unik yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata edukasi lingkungan. Implementasi inovasi ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kawasan wisata alam yang menampilkan keunikan ekosistem gambut, seperti jalur wisata hutan rawa, pusat edukasi gambut, serta kegiatan wisata berbasis konservasi. Pengembangan ekowisata ini juga dapat melibatkan masyarakat lokal sebagai pengelola wisata sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat sekitar. Selain itu, pengembangan ekowisata juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem gambut.

KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir di Sumatera Selatan memiliki karakteristik geografis yang didominasi oleh kawasan rawa dan lahan gambut yang memiliki fungsi ekologis penting bagi lingkungan. Namun kondisi tersebut juga menimbulkan berbagai tantangan pembangunan wilayah, seperti kebakaran hutan dan lahan gambut, perubahan penggunaan lahan akibat aktivitas pertanian dan perkebunan, serta potensi banjir yang disebabkan oleh luasnya kawasan rawa dan topografi wilayah yang relatif rendah. Selain itu, keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas di beberapa wilayah juga menjadi kendala dalam mendorong pemerataan pembangunan daerah.Di sisi lain, Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki potensi wilayah yang cukup besar untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Potensi tersebut meliputi sektor pertanian dan perkebunan, perikanan air tawar, pemanfaatan transportasi sungai, serta peluang pengembangan ekowisata berbasis ekosistem rawa dan gambut. Apabila potensi tersebut dikelola secara optimal dan memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, maka dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Untuk mengatasi berbagai permasalahan sekaligus memanfaatkan potensi wilayah, diperlukan penerapan inovasi pembangunan wilayah yang lebih modern dan adaptif. Inovasi seperti smart peatland management system untuk pengelolaan gambut, penerapan
konsep blue-green infrastructure dalam pengendalian banjir seperti yang diterapkan di Belanda, serta penggunaan digital spatial planning dalam perencanaan tata ruang dapat menjadi pendekatan strategis dalam pembangunan wilayah. Dengan penerapan inovasi tersebut, pembangunan di Kabupaten Ogan Komering Ilir diharapkan dapat berlangsung secara lebih terarah, berkelanjutan, serta mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Antara News. (2024). BNPB: Petugas masih bersiaga atasi dampak banjir di Ogan Komering Ilir. https://www.antaranews.com/berita/4683645/bnpb-petugas-masih-bersiaga-atasidampak-banjir-di-ogan-komering-ilir

Armanto, M. E., Hermawan, A., Imanudin, M. S., Wildayana, E., Sukardi, S., & Triana, A. N. (2023). Biomass and soil nutrients turnover affected by different peat vegetation in peat dome areas of OKI. Journal of Wetlands Environmental Management.

Bakri, B., Imanudin, M. S., Napoleon, A., Syazili, A. S., Prayitno, M. B., Hermawan, A., Khoiriyah, Z., Suwignyo, R. A., Choi, E., & Yang, H. (2025). Peatland degradation level and restoration model of Perigi Village in Ogan Komering Ilir, South Sumatra, Indonesia. Journal of Degraded and Mining Lands Management, 12(4), 8117–8126.

Batty, M. (2018). Digital twins. Environment and Planning B: Urban Analytics and City Science.

Budiman, I., Bastoni, Siregar, Z., Hadi, E., & Hapsari, R. (2020).
Progress of paludiculture projects in supporting peatland ecosystem restoration in Indonesia. Global Ecology and Conservation, 23.

Fatahillah, M. H., & Syaufina, L. (2019). Hubungan tinggi muka air dan kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Repository IPB University.

Fuller, A., Fan, Z., Day, C., & Barlow, C. (2020). Digital twin: Enabling technologies, challenges and open research. IEEE Access, 8.

Hidayat, H., et al. 2018. Social and ecological impacts of oil palm expansion on peatlands. Land Use Policy.

Hooijer, A., et al. 2010. Current and future CO₂ emissions from drained peatlands in Southeast Asia. Biogeosciences.

Ketzler, B., Naserentin, V., Latino, F., Zangelidis, C., Thuvander, L., & Logg, A. (2020). Digital twins for cities: A state of the art review. Built Environment.
Kompas. (2023). 32.496 hektar lahan di Sumatera Selatan terbakar, paling luas di Kabupaten OKI. https://regional.kompas.com/read/2023/10/12/114237678/32496-hektar-lahan-disumsel-terbakar-paling-luas-di-kabupaten-oki

Kospa, H. S., & Praja, A. A. (2022). Evaluasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Jurnal Rekayasa.

Muslikah, S., & Yuliana, I. (2021). Characteristics of the physical properties of Ogan Komering Ilir peatland. Cantilever: Journal of Civil Engineering Research and Studies.

Napoleon, A., Salsabila, N. G., Imanudin, M., Soleha, S., Hermawan, A., & Bakri, B. (2025). Microbial status of burned tropical peat soils: A case study of Perigi peat soil, Ogan Komering Ilir, South Sumatra. Journal of Degraded and Mining Lands Management.

Nurhayati, A. D., Saharjo, B. H., Sundawati, L., Syartinillia, & Vetrita, Y. (2020). Behaviour and perception of community on peat fire in Ogan Komering Ilir, South Sumatra Province. Journal of Natural Resources and Environmental Management.

O’Neill, E., Rowan, N., Jansen, M., et al. (2022). Digital transformation of peatland eco-innovations (paludiculture): Enabling sustainable production of green products. Science of the Total Environment, 838.

Page, S. E., Rieley, J. O., & Banks, C. J. 2011. Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool. Global Change Biology.

Pratiwi, R. E., Imanudin, M. S., & Harun, M. U. (2024). Estimation of belowground carbon stocks in peatlands under different land cover types in Ogan Komering Ilir Regency. Journal of Global Sustainable Agriculture.

Prayitno, M. B., & Saputra, B. D. (2023). Estimation of carbon sequestration of undergrowth and litter in post-burn and unburned peatland in Ogan Komering Ilir. Jurnal Lahan Suboptimal.

Pusvita, E., Mulyana, A., Adriani, D., & Antoni, M. (2024). Optimization of paludiculture model as a livelihood to improve the welfare of farmers in peatlands in OKI Regency, South Sumatra. Agribusiness Pulpit: Journal of Scientific Community Thought with an Agribusiness Insight.

Ritzema, H., Limin, S., Kusin, K., Jauhiainen, J., & Wösten, H. (2014). Canal blocking strategies for hydrological restoration of degraded tropical peatlands in Indonesia. Catena, 114.

Sari, D. W. (2024). Farm household vulnerability due to land and forest fire in peatland areas in South Sumatra. Land (MDPI).

Author

Leave a Reply